- ist
Siswa Makin Akrab dengan AI, Apakah Guru Sudah Siap Mengubah Cara Mengajar?
tvOnenews.com - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin mudah dijumpai dalam aktivitas belajar siswa. Teknologi ini dapat membantu mencari informasi, merangkum bacaan, menerjemahkan teks, hingga menjelaskan materi pelajaran yang sulit dipahami.
Dengan akses yang semakin luas, siswa kini memiliki pilihan sumber belajar di luar buku dan penjelasan guru di ruang kelas.
Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan baru. Jawaban yang dihasilkan AI tidak selalu benar, sementara penggunaan tanpa pemahaman dapat membuat siswa terbiasa menerima informasi tanpa memeriksa sumber maupun proses di baliknya.
Di sisi lain, kemampuan teknologi yang berkembang cepat membuat metode pembelajaran di sekolah perlu terus menyesuaikan diri.
Situasi ini memunculkan pertanyaan penting: apakah guru sudah siap mendampingi siswa yang semakin akrab dengan AI? Tantangannya bukan sekadar mampu mengoperasikan perangkat digital, melainkan memahami cara kerja teknologi, menilai informasi, serta mengarahkan siswa agar menggunakannya secara kritis dan bertanggung jawab.
Guru Perlu Menguasai Literasi Digital dan Kemampuan Berpikir Kritis
Kehadiran AI mengubah peran teknologi dalam pendidikan. Jika sebelumnya perangkat digital lebih banyak digunakan untuk menyampaikan materi atau mengakses bahan ajar, kini teknologi juga dapat terlibat dalam proses pencarian ide, pemecahan masalah, hingga penyusunan karya.
Perubahan tersebut membuat literasi digital menjadi salah satu kemampuan penting bagi tenaga pendidik. Guru perlu memahami bahwa informasi yang muncul dari mesin pencari maupun aplikasi AI tidak otomatis akurat. Kemampuan memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan mengenali kemungkinan kesalahan menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Guru juga perlu membantu siswa memahami batas penggunaan AI. Teknologi dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mengeksplorasi suatu topik, tetapi tidak semestinya menggantikan proses berpikir dan pemahaman siswa.
Misalnya, ketika AI digunakan untuk menyusun rangkuman, siswa tetap perlu membaca sumber asli dan memastikan apakah informasi yang disajikan sesuai dengan konteks.
Selain literasi digital, kemampuan berpikir komputasional atau computational thinking juga semakin relevan. Kemampuan ini berkaitan dengan cara seseorang mengurai persoalan menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana, mengenali pola, dan menyusun langkah penyelesaian secara sistematis.
Pemahaman dasar tentang coding dan analisis data dapat membantu guru mengenalkan logika di balik teknologi. Meski tidak semua mata pelajaran harus berorientasi pada pemrograman, pengenalan cara kerja teknologi dapat memperluas pemahaman siswa tentang dunia digital.
Pada akhirnya, keterampilan yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan menggunakan aplikasi terbaru. Guru juga perlu mengembangkan kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah agar teknologi benar-benar mendukung tujuan pembelajaran.
Pembelajaran Berbasis Proyek Membantu Siswa Menggunakan Teknologi
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengintegrasikan teknologi ke ruang kelas adalah pembelajaran berbasis proyek atau project-based learning. Melalui metode ini, siswa tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga mengerjakan persoalan atau menghasilkan karya berdasarkan materi yang dipelajari.
Sebagai contoh, siswa dapat diminta mengidentifikasi persoalan lingkungan di sekitar sekolah, mengumpulkan data, kemudian menyusun usulan penyelesaian.
AI dapat dimanfaatkan untuk mencari referensi atau mengembangkan alternatif ide. Namun, siswa tetap harus menguji informasi, mengolah temuan, dan menjelaskan alasan di balik solusi yang mereka pilih.
Metode tersebut memberi ruang bagi siswa untuk belajar menggunakan teknologi sekaligus mengembangkan kemampuan analitis. Guru berperan sebagai pendamping yang membantu menentukan tujuan, mengarahkan proses pencarian informasi, serta mengevaluasi hasil pekerjaan.
Pendekatan ini juga dapat mengurangi risiko siswa terlalu bergantung pada jawaban instan dari AI. Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi turut memperhatikan proses, argumentasi, dan kemampuan siswa menjelaskan pekerjaan mereka.
Tantangannya, penerapan pembelajaran berbasis proyek membutuhkan persiapan. Guru perlu merancang aktivitas yang sesuai dengan usia dan kemampuan siswa, menentukan sumber belajar, serta memastikan teknologi yang digunakan memang mendukung materi pelajaran.
Tanpa perencanaan yang tepat, penggunaan perangkat digital justru berisiko menjadi aktivitas tambahan yang tidak berkaitan langsung dengan tujuan pembelajaran.
Karena itu, pengembangan kompetensi guru perlu berjalan beriringan dengan penyediaan fasilitas teknologi. Sekolah juga perlu memberi ruang bagi pendidik untuk mencoba metode baru, bertukar pengalaman, dan mengevaluasi penerapannya di kelas.
Pelatihan Guru Menjadi Salah Satu Kebutuhan di Era AI
Perubahan teknologi yang berlangsung cepat membuat pelatihan bagi guru semakin penting. Materi pengembangan kemampuan tidak cukup hanya mengenalkan aplikasi atau perangkat terbaru. Pendidik juga perlu mendapatkan pemahaman mengenai desain pembelajaran, pemanfaatan data, coding, simulasi, hingga prinsip dasar AI dan machine learning.
Kebutuhan tersebut mulai direspons melalui berbagai program pelatihan. Salah satunya adalah Acer Smart School Academy (ASSA) 2026 yang diselenggarakan Acer Indonesia bersama Intel Skills for Innovation. Program ini dijadwalkan berlangsung pada 2–6 November 2026 pukul 14.00–16.00 WIB melalui Zoom dan terbuka secara gratis bagi guru.
Materi yang ditawarkan mencakup design thinking, computational thinking, coding, analisis data, simulasi, serta pengenalan AI dan machine learning. Pelatihan tersebut menghadirkan Nathanael Abelito Leo dan Bryan Austin Lontoh sebagai pemateri.
“Melanjutkan semangat Acer Smart School Award yakni inovasi dan memberikan dampak nyata dalam pendidikan, program ini menghadirkan pengalaman belajar yang berorientasi pada praktik, bukan sekadar teori. Para guru diajak untuk mengeksplorasi pemanfaatan teknologi dalam menjawab tantangan pembelajaran, mengembangkan metode pengajaran yang lebih kreatif, serta menciptakan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa,” ujar Head of Marketing Acer Indonesia, Fransisca Maya.
Sementara itu, Director of Educational Innovation & Partnership Intel Corporation, Tommy Ferdianto, turut menyoroti pentingnya pengembangan keterampilan yang relevan dengan perubahan dunia pendidikan.
Meski pelatihan dapat membantu meningkatkan kemampuan pendidik, kesiapan menghadapi AI tidak bisa diselesaikan melalui satu program saja. Sekolah membutuhkan proses pembelajaran berkelanjutan, dukungan fasilitas, dan ruang bagi guru untuk mengembangkan metode pengajaran.
Teknologi pada dasarnya hanya alat. Dampaknya terhadap pendidikan akan sangat bergantung pada bagaimana guru menggunakannya untuk membangun rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, dan kemandirian siswa.
Di tengah semakin mudahnya akses terhadap AI, peran guru justru semakin penting: bukan menjadi satu-satunya sumber jawaban, melainkan membantu siswa memahami cara menemukan dan menilai jawaban yang tepat. (udn)