news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Industri Arsitektur Tak Lagi Sekadar Soal Desain, Kolaborasi Jadi Kunci di Tengah Perubahan Properti.
Sumber :
  • Gambar ilustrasi AI / Gemini

Industri Arsitektur Tak Lagi Sekadar Soal Desain, Kolaborasi Jadi Kunci di Tengah Perubahan Properti

Industri arsitektur dan konstruksi global menghadapi tuntutan digitalisasi, keberlanjutan, dan kolaborasi lintas sektor. Bagaimana peluangnya di Indonesia?
Rabu, 23 September 2026 - 22:57 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Industri arsitektur dan konstruksi di berbagai negara sedang menghadapi perubahan besar. Proyek bangunan kini melibatkan semakin banyak pihak, sementara kebutuhan terhadap efisiensi, teknologi digital, pengelolaan data, dan pembangunan berkelanjutan terus meningkat. 

World Economic Forum (WEF) bahkan menyebut kolaborasi sebagai salah satu faktor penting dalam transformasi digital sektor konstruksi global. Kemitraan antara penyedia teknologi, kontraktor, supplier, dan pemangku kepentingan dinilai dapat mempercepat pengembangan solusi baru.

Persoalannya bukan hanya jumlah pihak yang terlibat, tetapi bagaimana mereka dapat bekerja dengan informasi dan tujuan yang sama. 

Studi Autodesk terhadap 3.503 pemimpin dan profesional konstruksi dari 27 negara menunjukkan bahwa sebuah proyek konstruksi rata-rata melibatkan 42 kolaborator eksternal sejak tahap desain hingga serah terima. Namun, hanya 38 persen responden yang menilai kemampuan berbagi data di perusahaannya sudah kuat.

Di saat yang sama, tuntutan terhadap bangunan yang lebih berkelanjutan juga membuat batas antara arsitek, developer, kontraktor, produsen material, dan pemilik bangunan semakin tipis. 

McKinsey mencatat bahwa penerapan konsep circularity di lingkungan binaan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dalam satu rantai nilai, mulai dari arsitek dan desainer hingga kontraktor, distributor, produsen material, operator, pemilik, dan investor.

Kolaborasi Jadi Tantangan Baru Industri

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan arsitektur semakin sulit dipisahkan dari ekosistem industri yang lebih luas. Desain sebuah bangunan harus berhadapan dengan persoalan biaya, fungsi, teknologi, material, kebutuhan pengguna, hingga tuntutan keberlanjutan.

McKinsey sebelumnya juga mencatat bahwa sektor architecture, engineering and construction (AEC) secara historis termasuk lambat dalam mengadopsi teknologi digital. 

Namun, kebutuhan infrastruktur, keterbatasan tenaga terampil, serta tuntutan terhadap transparansi dan integrasi data ikut mendorong perubahan. Salah satu persoalan yang muncul adalah fragmentasi teknologi dan informasi antarorganisasi, sehingga kolaborasi menjadi semakin penting.

Kondisi tersebut membuat hubungan antara berbagai pelaku industri tidak lagi sekadar pelengkap proyek. Pertemuan antara arsitek, developer, kontraktor, konsultan, supplier, dan mitra teknologi dapat menjadi ruang untuk bertukar pengalaman sekaligus mencari bentuk kerja sama baru.

Konteks inilah yang terlihat dalam agenda “Connecting Future Collaboration” yang berlangsung di Lausanne Ballroom, Swissôtel Jakarta PIK Avenue, Selasa (22/9/2026). Acara tersebut mempertemukan sejumlah pelaku industri arsitektur, properti, dan konstruksi, termasuk arsitek, developer, konsultan, kontraktor, supplier, klien, serta strategic partner.

Berita Terkait

1
2 3 4 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:02
05:10
03:00
05:01
06:41
06:14

Viral