- istimewa
Dari Eksportir Bijih Jadi Raja Nikel, Indonesia Kini Kuasai 41 Persen Produksi Dunia
Jakarta, tvOnenews.com - Dalam satu dekade terakhir, posisi Indonesia telah berubah menjadi salah satu kekuatan utama dalam rantai industri nikel global. Pangsa produksi nikel olahan nasional bahkan telah mencapai sekitar 41 persen dari total produksi dunia.
Perubahan tersebut menjadi salah satu gambaran paling nyata dari agresivitas kebijakan hilirisasi yang dijalankan pemerintah. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, kebijakan yang konsisten, termasuk larangan ekspor bijih nikel, telah mengubah struktur industri nasional dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi pusat produksi nikel olahan.
“Indonesia juga telah berubah dari pengekspor bijih menjadi pusat produksi olahan,” kata Yusuf saat dihubungi, Senin (28/9/2026).
Dalam perkembangannya, Indonesia bahkan menggeser China sebagai produsen nikel olahan terbesar di dunia. Pangsa produksi nasional yang sebelumnya hanya sekitar 1 persen melonjak menjadi 41 persen. Kenaikan tersebut mencerminkan masifnya pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter yang menarik investasi ke dalam negeri.
Namun, dominasi produksi tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Dengan menguasai porsi besar produksi dunia, kebijakan Indonesia terkait volume produksi berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan nikel global.
Karena itu, Yusuf menilai langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi Bahlil Lahadalia dalam menata produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menjadi penting.
Menurutnya, pengendalian produksi dapat menjadi instrumen untuk menjaga harga nikel sekaligus mengoptimalkan penerimaan negara. Meski demikian, kebijakan tersebut harus menjaga kebutuhan bahan baku industri pengolahan di dalam negeri agar kapasitas smelter tidak terganggu.
“Pengurangan volume dapat meningkatkan penerimaan negara jika mampu mengangkat harga, tetapi kuota tidak boleh terlalu ketat hingga smelter kekurangan bahan baku,” ujarnya.
Yusuf mengatakan manfaat hilirisasi sejauh ini telah terlihat melalui peningkatan investasi, ekspor, penerimaan negara, serta penciptaan lapangan pekerjaan di kawasan industri. Namun, besarnya pangsa produksi Indonesia belum otomatis menjadikan seluruh manfaat ekonomi nikel tinggal di dalam negeri.
“Pangsa 41 persen merupakan modal tawar yang besar, tetapi baru menjadi kekuatan ekonomi jika Indonesia menguasai teknologi, memperluas pembeli, menjaga harga, dan mempertahankan lebih banyak nilai tambah di dalam negeri,” kata Yusuf.