news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Dari Eksportir Bijih Jadi Raja Nikel, Indonesia Kini Kuasai 41 Persen Produksi Dunia.
Sumber :
  • istimewa

Dari Eksportir Bijih Jadi Raja Nikel, Indonesia Kini Kuasai 41 Persen Produksi Dunia

Dalam satu dekade terakhir, posisi Indonesia telah berubah menjadi salah satu kekuatan utama dalam rantai industri nikel global. Pangsa produksi nikel olahan
Senin, 28 September 2026 - 15:44 WIB
Reporter:
Editor :

Pandangan serupa disampaikan analis senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution Ronny P. Sasmita. Mengacu pada data Our World in Data berbasis British Geological Survey, Ronny menyebut produksi nikel olahan Indonesia melonjak lebih dari 60 kali lipat, dari sekitar 22 ribu ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023.

Lonjakan tersebut, menurut Ronny, menunjukkan bahwa hilirisasi tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi telah mengubah struktur industri nikel nasional secara signifikan.

“Jadi, kalau parameternya adalah kemampuan mengubah bijih menjadi produk olahan di dalam negeri, hilirisasi jelas menghasilkan transformasi struktural,” ujar Ronny.

Dampak investasi dari transformasi tersebut juga terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Pada semester I 2026, investasi hilirisasi tercatat mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional. Sementara sepanjang 2025, investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun.

“Masuknya investasi tersebut menciptakan efek berganda berupa pembangunan kapasitas industri, penciptaan lapangan pekerjaan, peningkatan nilai ekspor, serta semakin dalamnya basis manufaktur nasional. Ke depan, manfaat tersebut dapat diperbesar melalui transfer teknologi, peningkatan keterlibatan pemasok domestik, penguatan kualitas tenaga kerja serta peningkatan penerimaan negara,” ujarnya.

Menurut Ronny, status sebagai produsen nikel terbesar seharusnya menjadi pijakan untuk memasuki fase berikutnya, yakni deep industrialization. Artinya, Indonesia tidak cukup hanya meningkatkan volume produksi nikel olahan, tetapi perlu memperluas penguasaan teknologi dan rantai nilai industri.

Pengembangan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL), nickel sulphate, precursor, cathode active material, recycling hingga industri baterai dinilai dapat menjadi tahap lanjutan. Dengan begitu, Indonesia berpeluang bergerak dari sekadar negara dengan produksi nikel terbesar menjadi negara yang memiliki posisi lebih kuat dalam teknologi dan nilai tambah industri tersebut.

“Gelar ‘raja nikel’ baru merupakan babak pertama. Babak keduanya jauh lebih penting, apakah Indonesia hanya menjadi negara dengan produksi nikel terbesar, atau benar-benar menjadi negara yang paling besar menikmati nilai ekonomi, teknologi dan kekuatan industri dari nikelnya,” ujar Ronny. (agr/aag)
 

 

Berita Terkait

1
2
Tampilkan Semua

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:52
05:30
02:10
01:44
06:53
13:24

Viral