- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Basarnas Buka-bukaan Soal Faktor Penyulit Tindakan Salvage Bangkai Kapal Virgo ke Permukaan
Yogyakarta, tvOnenews.com - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mengungkap kendala dalam upaya pembalikan bangkai kapal Virgo Transport 8.
Proses yang sebelumnya direncanakan untuk dilakukan akhirnya urung terlaksana karena kondisi di lapangan dinilai belum memungkinkan.
Dalam proses pembalikan kapal, Basarnas akan memaksimalkan berbagai macam peluang dan sarana.
Dalam Undang-Undang Pelayaran disebutkan bahwa setiap kecelakaan laut yang berada di perairan laut aktif, pemilik kapal wajib mengangkat, memindahkan atau menenggelamkan kapalnya supaya alur lalu lintas laut tidak terganggu.
Proses salvage ini menjadi kewenangan dari jajaran Kementerian Perhubungan khususnya Direktorat Perhubungan Laut.
Basarnas disebutnya telah meminta proses pembalikan bisa dilaksanakan secepatnya dengan harapan seluruh korban yang masih berada di dalam kapal bisa segera dievakuasi.
Terkait tindakan salvage, Basarnas menyebut perusahaan pemilik kapal dari awal sejatinya sudah kooperatif dan pihak asuransi juga sudah melaksanakan observasi dan itu memungkinkan.
"Itu yang sedang kita dorong untuk bisa segera dilaksanakan. Kita yakinkan seluruh korban di dalam kapal bisa kita evakuasi dan diserahterimakan kepada keluarga untuk dimakamkan," kata Marsekal Madya Mohammad Syafii, Kepala Basarnas RI saat ditemui seusai membuka acara ASEAN Transport SAR Forum di Yogyakarta, Selasa (29/9/2026).
Namun demikian, Syafii mengungkap sejumlah kendala yang dihadapi dalam proses pembalikan bangkai kapal ini. Ia kemudian mengambil contoh insiden kecelakaan kapal pesiar di Italia.
Tindakan salvage kapal tersebut membutuhkan waktu sampai 3 tahun. Sementara kapal berukuran kecil hanya butuh waktu sehari.
"Yang kita lihat kondisi kapal (Virgo Transport 8) ini panjangnya hampir 120 meter, lebarnya 21 meter dan tingginya kira-kira 18 meter dan itu dalam kondisi kebalik. Bangkai kapal juga sudah menyentuh di tanah. Juga ada faktor-faktor kesulitan sendiri sehingga tidak semudah itu langsung bisa diapungkan kemudian dibalik," ungkapnya.
Untuk tindakan salvage, Basarnas sebelumnya juga sempat berkomunikasi dengan negara lain yang memiliki kemampuan tersebut. Tentunya, didukung peralatan khusus. Apabila semuanya sudah tersetting dengan baik, proses salvage tidak terlalu lama.
"Yang jelas proses awalnya adalah pengapungan dulu diangkat kemudian baru dipasang belt baru ditarik dari kedua belah sisi. Begitu sudah membalik, baru proses pengapungan juga bisa dilaksanakan disitu atau mungkin penarikan dulu ke tempat aman," kata Syafii. (scp/buz)