- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Kawasan Wisata Alam di Bogor Kembali Ditinjau, Ini Temuan dan Evaluasi Soal Lingkungan
tvOnenews.com - Pengelolaan kawasan wisata yang bersinggungan langsung dengan alam tidak cukup hanya mengandalkan aturan dan dokumen perizinan. Dalam praktiknya, keberlanjutan membutuhkan proses evaluasi yang terus berjalan, termasuk membuka ruang bagi pihak lain untuk menyampaikan kritik, memberikan masukan, dan melihat langsung kondisi di lapangan.
Pendekatan semacam itu menjadi penting karena aktivitas manusia di kawasan berbasis alam selalu memiliki potensi menimbulkan perubahan terhadap lingkungan. Karena itu, pengelolaan kawasan wisata alam idealnya tidak berhenti setelah izin diperoleh atau pembangunan selesai.
Evaluasi berkala diperlukan untuk melihat apakah kegiatan yang dilakukan tetap sesuai dengan prinsip perlindungan lingkungan serta bagaimana dampaknya dapat diminimalkan.
Keterlibatan berbagai pihak juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Pemerintah, pengelola, masyarakat, akademisi, organisasi lingkungan, hingga pihak yang memiliki keahlian khusus dapat memberikan perspektif berbeda. Pertukaran informasi memungkinkan sebuah persoalan dilihat secara lebih menyeluruh sekaligus membuka peluang untuk memperbaiki praktik pengelolaan yang masih memiliki kekurangan.
Hal tersebut menjadi perhatian dalam kunjungan WALHI Jawa Barat ke EIGER Nature di Bogor pada 1 Oktober 2026. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat perkembangan pengelolaan kawasan sekaligus mengevaluasi tindak lanjut atas berbagai masukan yang sebelumnya telah disampaikan.
Keterbukaan Menjadi Bagian dari Evaluasi Pengelolaan Alam
Dalam kunjungan tersebut, WALHI Jawa Barat berdialog dengan pengelola dan melihat secara langsung berbagai kegiatan yang berlangsung di kawasan. Pertemuan turut melibatkan akademisi, pakar, serta media sebagai bagian dari pertukaran informasi mengenai pengelolaan kawasan berbasis alam.
Sejumlah pakar yang terlibat merupakan bagian dari tim pakar EIGER Nature. Mereka antara lain Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo, M.Sc., yang memiliki keahlian di bidang botani dan konservasi tumbuhan; Prof. Dr. Ir. Mirza Dikari Kusrini, M.Si., yang merupakan pakar konservasi satwa liar; serta Prof. Dr. Ir. Arief Sabdo Yuwono, M.Sc., yang memiliki keahlian terkait pencemaran lingkungan serta pengelolaan sampah dan limbah.
Keterlibatan ahli dari berbagai bidang tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan berbasis alam tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik. Ada aspek ekologi, keanekaragaman hayati, pengelolaan limbah, hingga dampak terhadap lingkungan yang perlu diperhatikan secara bersamaan.