news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Viral Tsunami 60 Meter Akibat Erupsi Anak Krakatau, Badan Geologi Bongkar Fakta Video TikTok yang Bikin Resah.
Sumber :
  • Gambar ilustrasi AI / Gemini

Viral Tsunami 60 Meter Akibat Erupsi Anak Krakatau, Badan Geologi Bongkar Fakta Video TikTok yang Bikin Resah

Viral kabar tsunami 60 meter akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dipastikan hoaks oleh Badan Geologi. Simak fakta erupsi, status Waspada, dan radius aman
Sabtu, 10 Oktober 2026 - 00:12 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Media sosial kembali diramaikan oleh informasi kebencanaan yang memicu kekhawatiran masyarakat. Kali ini, sebuah video di TikTok menyebarkan narasi mengenai potensi tsunami setinggi 60 meter akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. 

Informasi tersebut menjadi perhatian karena disertai klaim tentang bencana besar yang disebut-sebut dapat terjadi sewaktu-waktu.

Dalam narasi yang beredar, Gunung Anak Krakatau dikabarkan akan mengalami erupsi dahsyat hingga menghancurkan dan menghilangkan gunung tersebut. 

Tsunami setinggi 60 meter juga disebut bisa terjadi pada pagi, siang, atau sore hari. Klaim tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kebenaran informasi dan kondisi terkini gunung api yang berada di wilayah Lampung itu.

Menanggapi kabar yang viral tersebut, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menegaskan bahwa informasi mengenai potensi tsunami 60 meter akibat erupsi Anak Krakatau merupakan hoaks. 

Masyarakat diminta tidak langsung mempercayai konten kebencanaan di media sosial, terutama jika tidak disertai data ilmiah dan konfirmasi dari lembaga berwenang.

Badan Geologi Tegaskan Kabar Tsunami 60 Meter Anak Krakatau Hoaks

Badan Geologi memberikan klarifikasi melalui akun media sosial resminya pada Jumat (9/10/2026). Lembaga tersebut memastikan bahwa narasi mengenai ancaman tsunami setinggi 60 meter akibat erupsi Gunung Anak Krakatau tidak benar.

Dalam keterangannya, Badan Geologi juga menjelaskan bahwa video yang disebarkan oleh akun TikTok bernama XinShi merupakan hasil penyuntingan dari konten asli milik Badan Geologi. Penyuntingan tersebut membuat informasi yang beredar berbeda dari keterangan resmi mengenai kondisi gunung api.

“Unggahan yang disebarkan oleh akun ‘XinShi’ merupakan hasil penyuntingan dari konten asli milik Badan Geologi,” jelas Badan Geologi melalui akun Instagram resminya, Jumat (9/10/2026).

Badan Geologi turut menegaskan melalui unggahan tersebut bahwa informasi mengenai potensi tsunami 60 meter tidak memiliki dasar yang sesuai dengan kondisi yang dilaporkan.

“Menyikapi informasi yang beredar di media sosial TikTok mengenai potensi tsunami setinggi 60 meter akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, Badan Geologi mengonfirmasi bahwa narasi tersebut adalah tidak benar (hoax),” tulis Badan Geologi.

Klarifikasi ini penting agar masyarakat tidak mencampuradukkan kejadian erupsi yang benar-benar tercatat dengan prediksi bencana yang belum terbukti. Informasi mengenai ancaman tsunami perlu merujuk pada kajian ilmiah dan keterangan resmi lembaga yang memiliki kewenangan.

Fakta Erupsi Anak Krakatau pada 5 Oktober 2026

Meski kabar tsunami 60 meter dinyatakan hoaks, Badan Geologi membenarkan bahwa Gunung Anak Krakatau memang mengalami erupsi pada Senin (5/10/2026).

Berdasarkan catatan yang disampaikan Badan Geologi, erupsi terjadi pada pukul 20.28 WIB. Peristiwa tersebut tercatat memiliki amplitudo maksimum 33 milimeter dengan durasi sekitar 1 menit 1 detik. Sementara itu, tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Data tersebut menjadi dasar untuk membedakan kejadian vulkanik yang tercatat dari narasi bencana yang beredar di media sosial. Terjadinya erupsi tidak serta-merta membenarkan klaim bahwa tsunami setinggi puluhan meter akan terjadi.

Badan Geologi menjelaskan bahwa Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Status Level II atau Waspada. Status tersebut berbeda dari gambaran kondisi ekstrem yang disampaikan dalam video viral mengenai ancaman tsunami 60 meter.

Meski demikian, status Waspada bukan berarti masyarakat dapat mengabaikan rekomendasi keselamatan. Aktivitas gunung api tetap perlu dipantau, sedangkan masyarakat harus mematuhi arahan resmi yang ditetapkan berdasarkan hasil pengamatan.

Badan Geologi juga mengingatkan bahwa informasi mengenai aktivitas vulkanik perlu dipahami sesuai konteks data pemantauan. Masyarakat sebaiknya tidak menarik kesimpulan sendiri dari potongan video atau narasi yang telah diedit tanpa memeriksa sumber aslinya.

Radius Aman Anak Krakatau 2 Kilometer, Ini Imbauan Badan Geologi

Selain membantah kabar tsunami 60 meter, Badan Geologi menyampaikan rekomendasi keselamatan bagi masyarakat yang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau.

“Masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki dihimbau untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah aktif,” demikian imbauan Badan Geologi.

Rekomendasi tersebut perlu diperhatikan oleh siapa pun yang berencana mengunjungi kawasan sekitar gunung api. Masyarakat tidak disarankan mendekati kawah aktif dan perlu mengikuti arahan petugas serta pembaruan informasi dari lembaga berwenang.

Badan Geologi juga meminta masyarakat tetap waspada terhadap potensi bahaya geologi dan tidak mudah mempercayai ramalan kebencanaan yang tidak didukung bukti ilmiah.

“Masyarakat diimbau untuk selalu waspada serta tidak memercayai isu atau ramalan kebencanaan yang tidak berbasis data ilmiah,” ujarnya.

Untuk memperoleh informasi terbaru mengenai aktivitas gunung api dan rekomendasi keselamatan, masyarakat dapat mengakses situs resmi MAGMA Indonesia melalui magma.esdm.go.id serta mengikuti kanal komunikasi resmi Badan Geologi.

Di tengah cepatnya penyebaran informasi melalui media sosial, verifikasi menjadi langkah penting sebelum membagikan konten yang berpotensi menimbulkan kepanikan. Masyarakat perlu memeriksa sumber, tanggal, konteks, dan keaslian informasi, terutama ketika menyangkut ancaman bencana.

Dengan demikian, kabar mengenai tsunami setinggi 60 meter akibat erupsi Gunung Anak Krakatau telah dibantah oleh Badan Geologi. Fakta yang disampaikan lembaga tersebut adalah erupsi terjadi pada 5 Oktober 2026, gunung berada pada Status Level II (Waspada), dan masyarakat diminta menjaga jarak minimal 2 kilometer dari kawah aktif sesuai rekomendasi yang berlaku. (udn)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:50
02:47
06:54
06:16
06:20
07:15

Viral