news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

IPO Lintas Negara hingga Dual Listing, Peluang RI-Singapura Ini Bisa Buka Akses Modal Global bagi Perusahaan Indonesia.
Sumber :
  • Laman Resmi MPR RI

IPO Lintas Negara hingga Dual Listing, Peluang RI-Singapura Ini Bisa Buka Akses Modal Global bagi Perusahaan Indonesia

Ibas bertemu SGX untuk membahas peluang kerja sama pasar modal Indonesia-Singapura, mulai dari IPO lintas negara, dual listing, ETF regional, hingga akses
Minggu, 11 Oktober 2026 - 01:55 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Perusahaan Indonesia berpeluang mendapatkan akses lebih luas ke investor internasional jika konektivitas pasar modal dengan Singapura semakin kuat. 

Kerja sama tersebut membuka ruang pembahasan mengenai penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) lintas pasar, pencatatan saham di dua bursa (dual listing), hingga pengembangan produk investasi regional. 

Bagi perusahaan yang membutuhkan pendanaan untuk ekspansi, konektivitas ini berpotensi menjadi alternatif untuk menjangkau sumber modal di luar pasar domestik.

Peluang tersebut menjadi relevan karena Indonesia memiliki basis ekonomi dan pasar domestik yang besar, sementara Singapura dikenal sebagai salah satu pusat keuangan internasional. 

Menghubungkan kedua ekosistem dapat mempertemukan perusahaan yang membutuhkan pembiayaan dengan investor yang mencari peluang pertumbuhan di Asia Tenggara. Namun, realisasi manfaatnya tetap bergantung pada kesiapan perusahaan, ketentuan regulator, transparansi informasi, dan minat investor.

Pembahasan mengenai peluang itu mengemuka dalam pertemuan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), dengan jajaran Singapore Exchange (SGX) Group di SGX Centre, Singapura, pada 7 Oktober 2026. 

Mengutip laman resmi MPR RI, pertemuan tersebut membahas transformasi bursa, dinamika pasar modal kedua negara, investasi lintas batas, serta upaya memperkuat hubungan perusahaan Indonesia dengan ekosistem keuangan internasional.

Konektivitas Pasar Modal RI-Singapura Jadi Sorotan

Dalam pertemuan bersama Head of Global Financial Markets SGX Group, Ng Yao Loong, Ibas menilai Indonesia dan Singapura memiliki potensi besar untuk memperdalam kerja sama ekonomi, khususnya melalui pasar modal. 

Singapura memiliki posisi strategis dalam jaringan keuangan global, sedangkan Indonesia menawarkan pasar domestik yang luas, peluang pertumbuhan, dan perusahaan dari beragam sektor.

“Indonesia dan Singapura bukan hanya negara tetangga yang dekat secara geografis, tetapi juga mitra yang memiliki peluang besar untuk tumbuh bersama. Kita perlu memperkuat koneksi antara perusahaan Indonesia dan modal global, sekaligus membantu investor internasional memahami potensi dan peluang di Indonesia dengan lebih baik,” kata Ibas, melansir dari laman resmi MPR, Sabtu (11/10/26).

Menurutnya, konektivitas pasar tidak cukup dibangun melalui peningkatan transaksi saham. Perusahaan juga memerlukan akses terhadap riset, informasi pasar, jaringan investor, serta pilihan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan bisnisnya.

Karena itu, kerja sama dapat mencakup edukasi investor, peningkatan kualitas tata kelola perusahaan, pengembangan teknologi, energi, infrastruktur, dan pembiayaan jangka panjang. Tujuannya adalah memperluas akses modal sekaligus membantu perusahaan meningkatkan kapasitas dan daya saing.

“Yang kita cari bukan sekadar bertambahnya transaksi. Kita ingin membangun hubungan pasar yang lebih kuat, memperluas pemahaman antara investor dan perusahaan, serta membuka peluang kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi perekonomian kedua negara,” tambahnya.

Meski demikian, IPO lintas negara maupun dual listing bukan mekanisme yang otomatis memberikan pendanaan. Perusahaan tetap harus memenuhi ketentuan pencatatan bursa, persyaratan regulator, kewajiban keterbukaan informasi, serta mempertimbangkan biaya dan manfaat dari pencatatan di pasar tambahan.

Dual Listing, IPO Lintas Pasar, dan ETF Regional: Apa Peluangnya?

Salah satu peluang yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah pengembangan konektivitas melalui dual listing, IPO lintas pasar, dan produk investasi yang memberikan akses terhadap perusahaan di kawasan Asia Tenggara.

Dual listing merupakan pencatatan saham suatu perusahaan di lebih dari satu bursa. Mekanisme ini dapat memperluas jangkauan investor, meningkatkan eksposur perusahaan, dan membuka peluang perdagangan saham di pasar berbeda. 

Namun, pelaksanaannya membutuhkan pemenuhan aturan masing-masing bursa dan regulator, serta tidak menjamin kenaikan likuiditas atau valuasi saham.

Sementara itu, IPO lintas pasar dapat membuka jalur bagi perusahaan untuk menjangkau investor dari yurisdiksi berbeda melalui skema yang sesuai dengan aturan pasar terkait. Pelaksanaannya memerlukan kajian hukum, kesiapan laporan keuangan, tata kelola, keterbukaan informasi, dan biaya yang tidak sedikit.

Peluang lain datang dari pengembangan exchange-traded fund (ETF) berbasis kawasan. Produk ini memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap sekumpulan saham yang mengikuti indeks atau strategi tertentu. ETF regional, misalnya, dapat dirancang untuk mencakup perusahaan dari beberapa negara Asia Tenggara atau sektor tertentu.

Dari pihak SGX, Senior Vice President SGX RegCo, John Lim, menilai terdapat peluang untuk memperkuat konektivitas sumber modal di kawasan melalui akses lintas batas, produk investasi regional, serta peningkatan transparansi dan integritas pasar.

John juga menyoroti potensi pengembangan ETF yang menghimpun perusahaan dari berbagai negara atau sektor di Asia Tenggara. Dalam konteks tersebut, konektivitas pasar diharapkan dapat mempermudah investor menjangkau peluang regional sekaligus memperluas pilihan pendanaan bagi perusahaan.

Bagi Indonesia, peluang ini relevan untuk perusahaan yang memiliki prospek pertumbuhan dan membutuhkan modal bagi ekspansi. Meski demikian, manfaatnya perlu dinilai secara realistis dengan mempertimbangkan kesiapan perusahaan, likuiditas saham, struktur biaya, risiko valuta asing, dan perbedaan regulasi.

Tata Kelola, Startup, dan Kepercayaan Investor Jadi Penentu

Akses terhadap modal internasional tidak akan optimal tanpa kepercayaan investor. Dalam diskusi tersebut, Ibas menekankan pentingnya kepastian hukum, stabilitas, disiplin pasar, dan tata kelola yang baik sebagai fondasi pengembangan pasar modal.

“Kepercayaan adalah salah satu modal terpenting dalam pasar keuangan. Investor membutuhkan informasi yang akurat, tata kelola yang baik, kepastian hukum, dan keyakinan bahwa aturan diterapkan secara konsisten. Karena itu, penguatan sistem pengawasan, disiplin pasar, dan integritas pelaku pasar harus menjadi perhatian bersama,” tegas Ibas.

Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap perantara pedagang efek, pencegahan praktik yang merugikan investor, serta peningkatan kualitas informasi perusahaan. 

Menurutnya, kekuatan pasar modal tidak semata-mata ditentukan oleh nilai transaksi atau pergerakan indeks, tetapi juga oleh kualitas perusahaan tercatat, perlindungan investor, dan kemampuan menyalurkan modal ke sektor produktif.

Dalam pertemuan itu, Anggota MPR RI Hillary Brigita Lasut turut menyoroti tantangan menjaga kepercayaan pasar di tengah penguatan regulasi. Ia menekankan perlunya membedakan tindakan pelanggaran (misconduct) dari keputusan bisnis yang diambil dengan itikad baik. Hillary juga menggali pengalaman SGX mengenai kriteria perusahaan dalam skema percepatan serta peluang memperluas akses startup Indonesia terhadap ekosistem pendanaan Singapura.

Sementara itu, Founder sekaligus CIO Stockwise, Andry Hakim, melihat peluang memperdalam kemitraan kedua negara melalui tiga prioritas: memperluas akses investasi lintas batas, memperkuat transparansi dan integritas pasar, serta mengembangkan produk investasi yang mencerminkan kebutuhan masa depan kawasan, termasuk infrastruktur, jasa keuangan, konektivitas digital, dan transisi energi.

Ibas juga memandang pentingnya sinergi antara investor, perusahaan Indonesia, startup, dan lembaga investasi, termasuk peluang kolaborasi regional yang melibatkan Danantara. Ia menekankan bahwa investasi seharusnya diarahkan pada penguatan kapasitas usaha, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Potensi investasi harus diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi yang produktif. Kita ingin melihat lebih banyak perusahaan yang bertumbuh, inovasi yang berkembang, lapangan kerja yang tercipta, dan kerja sama yang memperkuat daya saing Indonesia di tingkat regional maupun global,” ujarnya.

Pada akhir pertemuan, Ibas mengapresiasi pertukaran pandangan dengan jajaran SGX. Ia menilai dialog antara pembuat kebijakan, regulator, investor, analis, dan pengelola bursa diperlukan untuk memperluas pemahaman mengenai peluang sekaligus tantangan pasar modal lintas negara.

“Indonesia dan Singapura memiliki kesempatan untuk membangun kerja sama yang semakin kuat. Dengan kepercayaan, komitmen, tata kelola yang baik, dan kemauan untuk terus beradaptasi, kita dapat mendorong pasar keuangan yang lebih sehat dan menciptakan manfaat bagi perekonomian kawasan serta masyarakat luas,” pungkasnya.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat dialog antara ekosistem pasar modal Indonesia dan Singapura. Namun, pembahasan mengenai dual listing, IPO lintas pasar, dan ETF regional masih perlu diterjemahkan ke dalam skema konkret, termasuk persyaratan teknis dan regulasi yang berlaku.

Jika didukung tata kelola yang kuat, transparansi, kesiapan perusahaan, dan perlindungan investor, konektivitas dengan Singapura berpotensi memperluas pilihan pendanaan serta memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem investasi Asia Tenggara. (udn)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:50
02:47
06:54
06:16
06:20
07:15

Viral