- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Karya 100 Seniman dari Berbagai Daerah di Indonesia Dipamerkan di Taman Budaya Yogyakarta, Bentuk Dukungan terhadap Seni Kontemporer
Tahap berikutnya, Akademi: Lab, akan dihadirkan pada 2027 sebagai ruang inkubasi untuk mendorong inovasi, pendalaman, dan pengayaan praktik berkesenian. Sementara itu, pada 2028, Akademi: Lintasan diarahkan untuk membuka peluang pertukaran dan kolaborasi berskala regional bersama ruang maupun organisasi seni dan budaya, termasuk di kawasan Asia Tenggara.
Dalam penyelenggaraan tahun ini, 100 seniman terpilih melalui dua mekanisme kurasi, yakni undangan khusus dan pendaftaran terbuka (open call). Jalur pendaftaran terbuka menarik 264 perupa dari berbagai wilayah Indonesia, antara lain Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Lampung, Bali, Jambi, dan Riau, hingga peserta dari Makassar, Sulawesi Selatan.
Proses seleksi juga melibatkan surat rekomendasi dari mentor, guru, dosen, kepala sanggar, hingga pengelola taman budaya. Rekomendasi tersebut digunakan untuk memetakan afiliasi seniman sekaligus mengidentifikasi ruang-ruang yang mendukung produksi pengetahuan dan pengembangan praktik seni.
Melalui pendekatan tersebut, penyelenggara berupaya mendapatkan gambaran mengenai persebaran ruang produksi pengetahuan serta keragaman praktik seni rupa kontemporer di Indonesia.
“Secara tidak langsung, ini bisa menjadi ringkasan tentang praktik teman-teman seniman muda di Indonesia,” ujar Gintani.
Pameran ini mempertemukan seniman lintas generasi. Sejumlah seniman senior yang terlibat di antaranya Siti Adiyati, Titarubi, Nadiah Bamadhaj, dan Maryanto. Sementara itu, deretan seniman muda yang berpartisipasi mencakup Ipeh Nur, Marten Bayuaji, Mira Rizki, dan Ari Zal Zainal Beta.
Selain menampilkan karya seni rupa, Nandur Srawung #13 menghadirkan berbagai program publik sepanjang penyelenggaraan. Agenda tersebut meliputi diskusi publik, kelas penulisan seni, seni performa, kuliah umum, wicara seniman, serta lokakarya pendidikan dan penerbitan seni.
Kelas Penulisan Seni diikuti oleh 10 penulis muda. Sementara itu, diskusi publik mengangkat sejumlah persoalan, termasuk polemik seni pasca-Reformasi dan pendidikan seni. Program wicara seniman menghadirkan Bonggal Hutagalung, Maryanto, Nina Widjaja, Pangestumu, dan Yudha Kusuma Putera.
Sektor literasi seni juga diperkuat melalui Kios Seni yang berkolaborasi dengan Yogyakarta Art Book Club (YKABC). Kolaborasi tersebut menghadirkan lokakarya penerbitan seni pada Selasa (27/10/2026).
Pada penyelenggaraan kali ini, skema penghargaan bagi seniman muda juga mengalami perubahan. Penghargaan Young Artist Award digantikan dengan Audience Recognition Award, yang memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk memilih seniman atau karya favorit mereka selama pameran berlangsung. Penerima penghargaan tersebut dijadwalkan diumumkan pada Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan penutupan rangkaian acara.