- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Karya 100 Seniman dari Berbagai Daerah di Indonesia Dipamerkan di Taman Budaya Yogyakarta, Bentuk Dukungan terhadap Seni Kontemporer
Yogyakarta, tvOnenews.com - Pameran seni rupa tahunan Nandur Srawung kembali dilaksanakan tahun ini untuk ketiga belas kalinya. Menghadirkan 100 seniman terpilih dari berbagai daerah di Indonesia, pameran ini mengusung tema "Akademi: Lanskap".
Kepala Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Purwiati, mengatakan bahwa Nandur Srawung merupakan agenda tahunan yang terus dikembangkan untuk mengawal, memfasilitasi, dan mendorong perkembangan seni rupa kontemporer di Yogyakarta. Untuk periode 2026–2028, pengelolaan kuratorial dipercayakan kepada tiga kurator muda, yakni Gintani Swastika, Febrian A. Hasibuan, dan Tomi Firdaus.
“Ini adalah agenda tahunan untuk pameran Nandur Srawung tahun ini dan mulai tahun 2026 sampai nanti 2028, dengan kurator-kurator muda kita yang sangat berbakat dan luar biasa ini untuk bisa selalu mengembangkan seni rupa kontemporer yang ada di Yogyakarta,” ujar Purwiati dalam jumpa pers di TBY, Rabu (21/10/2026).
Kurator Nandur Srawung #13, Gintani Swastika menjelaskan bahwa penggunaan skema kuratorial bertajuk Akademi berangkat dari pembacaan terhadap kondisi ekosistem, infrastruktur, dan berbagai peristiwa seni rupa di Yogyakarta. Menurutnya, Nandur Srawung perlu mengambil peran yang lebih luas, bukan hanya sebagai ruang pameran, melainkan juga sebagai wadah produksi pengetahuan dan pengembangan kapasitas seniman muda.
“Saya merasa sudah saatnya Nandur Srawung melakukan reposisi, karena dalam lanskap atau infrastruktur konstelasi peristiwa seni, kami perlu memberikan perhatian kepada teman-teman seniman muda khususnya, untuk kemudian memberikan ekosistem yang mendukung,” kata Gintani.
Ia menambahkan, Akademi dirancang sebagai platform untuk memperkaya praktik berkesenian dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan seniman, terutama generasi muda. Salah satu upayanya dilakukan melalui pemetaan praktik seni, medium, perspektif, serta ruang-ruang yang menjadi tempat para seniman mengembangkan gagasan dan pengetahuan.
“Akademi menjadi platform untuk memperkaya dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan seniman, khususnya seniman muda. Infrastruktur yang kami bayangkan seperti ruang produksi pengetahuan dan pengembangan,” ujarnya.
Trilogi kuratorial tersebut disusun dalam tiga tahapan. Pada 2026, tema Akademi: Lanskap berfokus pada pemetaan dan pembacaan terhadap beragam praktik, medium, perspektif, serta posisi seni rupa kontemporer Indonesia.
Tahap berikutnya, Akademi: Lab, akan dihadirkan pada 2027 sebagai ruang inkubasi untuk mendorong inovasi, pendalaman, dan pengayaan praktik berkesenian. Sementara itu, pada 2028, Akademi: Lintasan diarahkan untuk membuka peluang pertukaran dan kolaborasi berskala regional bersama ruang maupun organisasi seni dan budaya, termasuk di kawasan Asia Tenggara.
Dalam penyelenggaraan tahun ini, 100 seniman terpilih melalui dua mekanisme kurasi, yakni undangan khusus dan pendaftaran terbuka (open call). Jalur pendaftaran terbuka menarik 264 perupa dari berbagai wilayah Indonesia, antara lain Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Lampung, Bali, Jambi, dan Riau, hingga peserta dari Makassar, Sulawesi Selatan.
Proses seleksi juga melibatkan surat rekomendasi dari mentor, guru, dosen, kepala sanggar, hingga pengelola taman budaya. Rekomendasi tersebut digunakan untuk memetakan afiliasi seniman sekaligus mengidentifikasi ruang-ruang yang mendukung produksi pengetahuan dan pengembangan praktik seni.
Melalui pendekatan tersebut, penyelenggara berupaya mendapatkan gambaran mengenai persebaran ruang produksi pengetahuan serta keragaman praktik seni rupa kontemporer di Indonesia.
“Secara tidak langsung, ini bisa menjadi ringkasan tentang praktik teman-teman seniman muda di Indonesia,” ujar Gintani.
Pameran ini mempertemukan seniman lintas generasi. Sejumlah seniman senior yang terlibat di antaranya Siti Adiyati, Titarubi, Nadiah Bamadhaj, dan Maryanto. Sementara itu, deretan seniman muda yang berpartisipasi mencakup Ipeh Nur, Marten Bayuaji, Mira Rizki, dan Ari Zal Zainal Beta.
Selain menampilkan karya seni rupa, Nandur Srawung #13 menghadirkan berbagai program publik sepanjang penyelenggaraan. Agenda tersebut meliputi diskusi publik, kelas penulisan seni, seni performa, kuliah umum, wicara seniman, serta lokakarya pendidikan dan penerbitan seni.
Kelas Penulisan Seni diikuti oleh 10 penulis muda. Sementara itu, diskusi publik mengangkat sejumlah persoalan, termasuk polemik seni pasca-Reformasi dan pendidikan seni. Program wicara seniman menghadirkan Bonggal Hutagalung, Maryanto, Nina Widjaja, Pangestumu, dan Yudha Kusuma Putera.
Sektor literasi seni juga diperkuat melalui Kios Seni yang berkolaborasi dengan Yogyakarta Art Book Club (YKABC). Kolaborasi tersebut menghadirkan lokakarya penerbitan seni pada Selasa (27/10/2026).
Pada penyelenggaraan kali ini, skema penghargaan bagi seniman muda juga mengalami perubahan. Penghargaan Young Artist Award digantikan dengan Audience Recognition Award, yang memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk memilih seniman atau karya favorit mereka selama pameran berlangsung. Penerima penghargaan tersebut dijadwalkan diumumkan pada Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan penutupan rangkaian acara.
Selain itu, Nandur Srawung #13 memberikan Lifetime Achievement Award sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan kontribusi berkelanjutan terhadap seni kontemporer Indonesia. Penghargaan tersebut disertai Pidato Kebudayaan oleh seniman Melati Suryodarmo pada Minggu (25/10/2026) yang menghadirkan refleksi mengenai gagasan diri dan jiwa dalam perjalanan praktik keseniannya.
Purwiati berharap pelaksanaan Nandur Srawung melalui platform kuratorial tiga tahunan ini dapat terus mendukung perkembangan seni rupa kontemporer, khususnya di Yogyakarta. Kehadiran kurator muda, seniman lintas generasi, serta berbagai program pengembangan pengetahuan diharapkan memperluas ruang pertumbuhan bagi para pelaku seni.
Pameran Nandur Srawung #13 bertema Akademi: Lanskap berlangsung pada 21–28 Oktober 2026 di Taman Budaya Yogyakarta. Pameran terbuka untuk masyarakat umum secara gratis pada 22–28 Oktober 2026, setiap pukul 10.00–20.00 WIB. (Scp/Ard)