- Istimewa
Profil Mojtaba Khamenei, Pewaris Bayangan Teheran: Anak Sang Pemimpin yang Menggenggam Kekuasaan Tanpa Jabatan
Narasi serupa muncul dalam protes besar 2022 pascakematian Mahsa Amini. Dalam slogan jalanan, Mojtaba bahkan disebut langsung oleh massa sebagai simbol represi elit penguasa—sebuah indikasi bahwa namanya dikenal luas, meski wajahnya jarang terlihat.
Jaringan IRGC dan Kebijakan Regional
Pengaruh Mojtaba tidak berhenti di dalam negeri. Ia memiliki relasi kuat dengan unit elit IRGC, termasuk Pasukan Quds yang mengelola operasi luar negeri Iran. Dalam berbagai laporan diplomatik, Mojtaba disebut terlibat dalam diskusi strategis terkait kebijakan Iran di Irak, Suriah, Lebanon, dan Palestina—wilayah inti dari “poros perlawanan”.
Kedekatan dengan mendiang Qassem Soleimani memperkuat posisinya sebagai penghubung ideologi Khomeinis dan praktik geopolitik Iran. Jaringan ini membuatnya memiliki dukungan militer yang krusial bila kelak suksesi benar-benar mengarah kepadanya.
Kontroversi Pewarisan Dinasti
Meski disebut-sebut paling siap, peluang Mojtaba jauh dari mulus. Republik Islam Iran lahir dari revolusi anti-monarki. Pewarisan kekuasaan dari ayah ke anak berpotensi memicu penolakan luas, baik dari rakyat maupun sebagian ulama.
Secara konstitusional, Pemimpin Tertinggi dipilih oleh Majelis Ahli. Namun, spekulasi bahwa nama Mojtaba telah dibahas dalam forum tertutup terus beredar. Pendukungnya menilai ia menjamin kontinuitas sistem, sementara penentangnya melihatnya sebagai simbol monarki terselubung.
Sanksi dan Kekuatan Finansial
Pada 2019, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Mojtaba atas dugaan pelanggaran HAM dan perannya dalam kebijakan represif Iran. Sejumlah laporan menyebut ia memiliki pengaruh besar atas aset yang dikelola Setad, lembaga semi-negara dengan nilai kekayaan puluhan miliar dolar. Meski angka pastinya tak pernah dikonfirmasi, kekuatan finansial ini menambah dimensi lain dari pengaruh Mojtaba.
Diam, Tapi Menentukan
Mojtaba Khamenei hampir tak pernah berpidato atau tampil di forum resmi. Justru sikap senyap inilah yang memperkuat auranya. Setiap kemunculan terbatas—di Qom atau pemakaman tokoh militer—dianggap sebagai sinyal politik.
Kini, pascawafatnya Ali Khamenei, Iran berada di persimpangan sejarah. Apakah Mojtaba akan muncul sebagai Pemimpin Tertinggi baru, atau tetap menjadi “raja tanpa mahkota” di balik layar, masih menjadi teka-teki. Namun satu hal jelas: dalam peta kekuasaan Teheran, Mojtaba Khamenei adalah figur yang terlalu besar untuk diabaikan. (nsp)