- Antara
Surat Wasiat Terakhir Ali Khamenei Terungkap: Pesan Perlawanan, Rantai Komando, dan Amanat Jika Iran Diserang
Jakarta, tvOnenews.com - Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tak hanya meninggalkan duka nasional, tetapi juga membuka tabir dokumen paling sensitif dalam sejarah Republik Islam Iran: surat wasiat dan instruksi darurat yang ia siapkan jika gugur dalam perang melawan Amerika Serikat dan Israel.
Media pemerintah Iran menayangkan momen duka dengan latar lantunan ayat suci Al-Qur’an. Saluran IRINN menampilkan foto-foto Khamenei dengan pita hitam di layar, sementara penyiar membacakan pernyataan resmi Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang mengonfirmasi wafatnya sang pemimpin sebagai “martir yang gugur saat menjalankan tugas”.
Namun di balik siaran berkabung itu, tersimpan pesan strategis yang jauh lebih menentukan: wasiat politik dan militer Khamenei yang menjadi pedoman Iran menghadapi situasi terburuk.
Wasiat Politik: Negara Tak Boleh Lumpuh
Laporan The New York Times yang dikutip media Turki Yeni Safak menyebut Khamenei telah mengeluarkan instruksi darurat kepada para penasihat seniornya jauh sebelum serangan terjadi. Menariknya, pesan ini tidak ditujukan kepada Presiden Iran, melainkan kepada figur kunci yang ia percaya penuh dalam situasi krisis: Ali Larijani.
Dalam skema wasiat tersebut, Khamenei menegaskan bahwa bila dirinya terbunuh dan komunikasi pusat terganggu, pengambilan keputusan strategis negara harus segera dialihkan ke lingkaran penasihat inti. Tujuannya jelas: memastikan Iran tetap berfungsi, tidak mengalami kekosongan kekuasaan, dan tidak terpecah dalam situasi perang.
Menurut sumber-sumber Iran yang dikutip New York Times, Ali Larijani ditetapkan sebagai figur kunci untuk mengoordinasikan urusan negara pada fase awal krisis. Penunjukan ini bukan berarti Larijani otomatis menjadi Pemimpin Tertinggi baru, melainkan penjaga stabilitas hingga mekanisme konstitusional berjalan.
Rantai Komando Berlapis
Isi penting lain dalam surat wasiat Khamenei adalah pengaturan rantai komando berlapis. Ia disebut telah menunjuk beberapa kandidat cadangan untuk posisi-posisi strategis di militer, intelijen, dan keamanan nasional. Skema ini dirancang agar jika satu lapis pimpinan gugur akibat serangan, lapisan berikutnya bisa langsung mengambil alih tanpa menunggu keputusan politik.