- Istimewa
Dari Ulama ke Kursi Transisi Kekuasaan: Siapa Ayatollah Arafi, Figur Kunci Iran Pasca Khamenei?
Jakarta, tvOnenews.com - Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026 menjadi titik balik paling dramatis dalam sejarah politik Iran modern.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, kekuasaan tertinggi Republik Islam tidak lagi berada di satu tangan. Di tengah situasi genting itu, satu nama mendadak menjadi sorotan dunia: Ayatollah Alireza Arafi.
Pemerintah Iran secara resmi menunjuk Ayatollah Alireza Arafi sebagai anggota Dewan Kepemimpinan Interim, sebuah struktur konstitusional yang akan memimpin negara hingga Pemimpin Tertinggi yang baru terpilih. Penunjukan ini diumumkan Dewan Penentu Kebijakan Tertinggi Iran pada Minggu, 1 Maret 2026, sehari setelah konfirmasi wafatnya Ali Khamenei.
Dewan kepemimpinan sementara ini dibentuk berdasarkan Pasal 111 Konstitusi Iran. Fungsinya jelas: menjaga kesinambungan pemerintahan, memastikan stabilitas negara, dan mengawal proses suksesi hingga Majelis Ahli Iran memilih pemimpin tertinggi permanen. Selain Arafi, dua figur lain yang masuk dalam dewan ini adalah Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei.
Namun, dari tiga nama tersebut, posisi Ayatollah Alireza Arafi dinilai paling strategis. Ia menjadi satu-satunya unsur ulama senior dengan latar belakang fikih dan pengalaman panjang di institusi keagamaan inti negara. Dalam sistem Republik Islam, faktor ini bukan sekadar simbolik, melainkan penentu legitimasi kekuasaan.
Lahir pada 1959, Arafi dikenal sebagai ulama dengan rekam jejak panjang di bidang pendidikan dan pengkaderan keagamaan. Ia memimpin jaringan hauzah atau lembaga pendidikan Islam nasional, sebuah posisi krusial dalam menjaga ideologi dan kesinambungan otoritas ulama di Iran. Selain itu, ia juga merupakan anggota Dewan Garda Konstitusi, lembaga yang berwenang menilai kesesuaian undang-undang dengan syariat Islam serta menyaring kandidat dalam pemilu.
Posisinya semakin menguat karena Arafi juga duduk di Majelis Ahli Kepemimpinan, lembaga yang beranggotakan puluhan ulama senior dan memiliki kewenangan penuh untuk memilih Pemimpin Tertinggi Iran. Dengan kata lain, Arafi berada di dua titik paling vital: penjaga sistem dan penentu suksesi. Kondisi inilah yang membuat namanya digadang-gadang sebagai kandidat kuat pengganti Ali Khamenei.
Dalam konteks transisi kekuasaan saat ini, peran Arafi bukan hanya administratif. Untuk pertama kalinya sejak Revolusi Islam 1979, otoritas tertinggi Iran dijalankan secara kolektif. Tiga figur berbagi kendali negara, dan Arafi memegang peran sentral dalam memastikan bahwa arah pemerintahan tetap sejalan dengan prinsip Wilayatul Faqih yang selama ini menjadi fondasi ideologi negara.
Secara karakter, Arafi dikenal sebagai sosok “garis keras modern”. Ia memiliki kemampuan bahasa Arab dan Inggris yang baik, serta mendorong pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, sebagai sarana penyebaran nilai-nilai Republik Islam. Meski terbuka terhadap inovasi, sikap politiknya tetap tegas. Pada gelombang protes domestik 2022, Arafi tercatat mengeluarkan peringatan keras terhadap pihak-pihak yang menyerang simbol ulama dan institusi keagamaan.
Sikap tersebut memperlihatkan bahwa di tengah tekanan geopolitik dan ketegangan regional, Iran berupaya mempertahankan kesinambungan ideologisnya. Pembentukan dewan kepemimpinan interim bukan dimaksudkan sebagai pelemahan otoritas, melainkan mekanisme konstitusional untuk mencegah kekosongan kekuasaan dan potensi instabilitas internal.
Bagi Iran, masa transisi ini menjadi ujian besar. Dunia internasional mengamati dengan cermat bagaimana negara tersebut mengelola pergantian kepemimpinan di tengah konflik terbuka dengan Amerika Serikat dan Israel. Di dalam negeri, publik menunggu arah baru kebijakan pasca era Khamenei yang telah berlangsung hampir empat dekade.
Nama Ayatollah Alireza Arafi kini berada di pusat pusaran sejarah tersebut. Apakah ia hanya akan menjalankan peran transisional, atau justru melangkah lebih jauh sebagai Pemimpin Tertinggi berikutnya, masih menjadi tanda tanya besar. Yang pasti, selama proses suksesi berlangsung, Arafi memegang salah satu kunci paling menentukan bagi masa depan politik dan ideologi Republik Islam Iran. (nsp)