- Antara
Trump Ancam Ratakan Jembatan dan Pembangkit Listrik Iran Jika Tolak Kesepakatan
Jakarta, tvOnenews.com - Ketegangan global kembali memuncak setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ancaman terhadap Iran pada Minggu (19/4).
Trump menegaskan bahwa militer AS tidak akan ragu untuk melumpuhkan infrastruktur vital, termasuk jembatan dan pembangkit listrik di seluruh Iran, jika Teheran menolak proposal kesepakatan yang diajukan Washington.
Melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump menunjukkan sikap yang jauh lebih agresif dan tidak lagi membuka ruang kompromi yang lunak.
"Kami menawarkan KESEPAKATAN yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka menerima itu sebab, jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan semua Pembangkit Listrik, dan Jembatan, di Iran. TIDAK ADA LAGI PRIA BAIK!" tulis Trump.
Pernyataan keras ini muncul sesaat setelah Trump mengonfirmasi bahwa tim perwakilannya sedang bertolak menuju Islamabad, Pakistan.
Kehadiran mereka di sana direncanakan untuk mengikuti babak baru negosiasi guna mencari solusi atas konflik dengan Iran.
Konflik fisik sebenarnya telah pecah sebelumnya pada 28 Februari, ketika pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah titik strategis di Iran.
Operasi militer tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan infrastruktur yang parah dan memakan korban dari pihak sipil.
Meskipun gencatan senjata sempat disepakati selama dua pekan mulai 7 April, nyatanya jalur diplomasi masih menemui jalan buntu.
Pertemuan terakhir yang digelar di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan apa pun yang memuaskan kedua belah pihak.
Situasi di lapangan kini semakin terjepit bagi Teheran. Meski belum ada pengumuman resmi mengenai dimulainya kembali peperangan terbuka, Amerika Serikat telah memperketat tekanan ekonomi dengan menutup akses ke pelabuhan-pelabuhan Iran.
Saat ini, para mediator internasional sedang bekerja keras untuk kembali mempertemukan pihak AS dan Israel guna merumuskan langkah diplomasi selanjutnya sebelum ancaman penghancuran benar-benar terjadi. (ant/dpi)