- ANTARA
Iran Balas Proposal Damai AS dengan Tuntutan Tegas, Minta Blokade Dicabut hingga Aset Dibekukan Dibuka
Iran, tvOnenews.com - Pemerintah Iran menyatakan respons terhadap proposal damai dari Amerika Serikat mencakup sejumlah tuntutan penting, mulai dari pencabutan blokade hingga pembebasan aset Iran yang selama ini dibekukan akibat tekanan Washington.
Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, dalam konferensi pers di Teheran, Senin (11/5/2026).
Menurut Baghaei, tuntutan yang diajukan Iran merupakan hal yang sah dan menjadi bagian penting dalam upaya penghentian konflik yang terjadi.
“Tuntutan kami sah. Kami menuntut penghentian perang, diakhirinya blokade dan pembajakan, serta pencairan aset Iran yang dibekukan secara tidak adil di bank-bank akibat tekanan AS,” kata Baghaei.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Iran tidak hanya fokus pada penghentian konflik, tetapi juga ingin memastikan tekanan ekonomi yang selama ini diberikan Amerika Serikat ikut dihentikan.
Iran Soroti Selat Hormuz dan Stabilitas Kawasan
Selain meminta pencabutan blokade, Iran juga menyoroti pentingnya keamanan pelayaran di kawasan strategis Selat Hormuz.
Baghaei mengatakan negaranya menginginkan adanya jaminan keselamatan navigasi di jalur pelayaran internasional tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya pembentukan stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah, termasuk di Lebanon.
“Iran juga menuntut jaminan keselamatan pelayaran di Selat Hormuz, serta pembentukan keamanan di kawasan dan Lebanon,” ujarnya.
Selat Hormuz sendiri selama ini menjadi salah satu jalur vital perdagangan minyak dunia dan kerap menjadi titik sensitif dalam konflik geopolitik kawasan.
Iran Buka Peluang Bahas Isu Nuklir dengan AS
Dalam keterangannya, Baghaei juga menyebut Iran tidak menutup kemungkinan menggelar pembicaraan dengan Amerika Serikat terkait isu nuklir di masa mendatang.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa fokus utama pemerintah Iran saat ini adalah menghentikan perang dan meredakan situasi konflik.
“Pada tahap saat ini, perhatian kami tertuju pada penghentian perang. Keputusan terkait isu nuklir, material nuklir Iran, pengayaan uranium, dan opsi lain akan kami bahas pada waktunya,” kata Baghaei.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa pembahasan mengenai program nuklir Iran masih memungkinkan dilakukan, namun belum menjadi prioritas utama dalam situasi saat ini.
Konflik Iran dan AS Memanas Sejak Februari
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat setelah serangan yang dilakukan AS bersama Israel pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan serta korban jiwa warga sipil di Iran.
Situasi memanas itu kemudian mendorong kedua negara mengumumkan gencatan senjata sementara pada 7 April 2026.
Namun, upaya diplomasi lanjutan belum membuahkan hasil setelah perundingan yang digelar di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Akibat belum tercapainya titik temu, Presiden AS Donald Trump memutuskan memperpanjang penghentian permusuhan guna memberi kesempatan kepada Iran menyusun “proposal terpadu”.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya membuka ruang negosiasi baru di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap konflik yang melibatkan kedua negara.
Iran Tegaskan Fokus pada Penghentian Konflik
Di tengah ketegangan yang masih berlangsung, Iran menegaskan bahwa prioritas utama mereka saat ini adalah penghentian perang dan pengurangan tekanan yang dinilai merugikan rakyat Iran.
Tuntutan pencabutan blokade dan pembukaan aset yang dibekukan menjadi bagian penting dalam respons Iran terhadap proposal damai dari Amerika Serikat.
Sementara itu, isu nuklir dan pengayaan uranium disebut akan dibahas pada tahap berikutnya setelah situasi konflik mereda.
Pernyataan terbaru Iran ini pun menjadi sorotan internasional karena dapat menentukan arah hubungan Teheran dan Washington dalam beberapa waktu ke depan. (nsp)