- Antara
Dari Bangkok ke Shanghai, KAPPI Ingatkan Dunia: Di Setiap Sudut Indonesia, Kopinya Berbeda Cerita
"Sering kali dunia hanya mengenal Indonesia sebagai satu negara penghasil kopi. Padahal Indonesia memiliki kekayaan kopi yang luar biasa beragam. Karena itu kami berupaya memperkenalkan semacam peta kopi Indonesia agar pasar internasional dapat memahami bahwa setiap daerah memiliki karakter, cerita, dan keunggulan yang berbeda." — Roby Wibisono, Perwakilan KAPPI
Ketika Kemasan Menjadi Peta
Di Shanghai, KAPPI tidak hanya membawa produk — mereka membawa konteks. Single origin coffee Indonesia ditampilkan dalam beragam bentuk: green bean, roasted bean, hingga ground coffee, dengan pilihan yang mencakup Arabica Full-Wash Sombra Coffee, Arabica Semi-Wash Qahwa Coffee, dan Robusta Natural Batulawang Coffee. Masing-masing dipilih bukan semata karena kualitasnya, tetapi karena masing-masing membawa cerita tersendiri tentang wilayah, proses, dan komunitas yang ada di baliknya.
Salah satu inovasi yang dibawa KAPPI adalah gift set kopi Indonesia yang dirancang sebagai media edukasi sekaligus pengenalan. Kemasan yang dilengkapi peta dan deskripsi daerah-daerah penghasil kopi Nusantara ini memungkinkan importir, roaster, atau bahkan konsumen awam untuk langsung memahami bahwa "kopi Indonesia" bukan satu entitas tunggal — melainkan sebuah arsipelago rasa yang luar biasa. Ini adalah cara KAPPI menerjemahkan misi edukasi ke dalam bahasa yang bisa dipahami oleh siapa pun, di mana pun.
Di sela-sela kegiatan, KAPPI juga berkesempatan berdiskusi dengan Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri dan Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun — sebuah pertemuan yang menegaskan bahwa isu identitas dan daya saing kopi single origin Indonesia kini mendapat perhatian serius di tingkat kebijakan.
Traceability, Sustainability, dan Satu Kebenaran yang Sering Terlupakan
Ada satu pergeseran besar yang sedang terjadi di pasar kopi global: konsumen dan pembeli tidak lagi puas hanya dengan rasa yang enak. Mereka ingin tahu dari mana kopi itu berasal. Siapa yang menanamnya. Bagaimana ia diperlakukan — dari pohon hingga cangkir. Tren ini, yang dikenal dengan istilah traceability dan value chain transparency, bukan sekadar tren pemasaran. Ia adalah cerminan dari kesadaran baru bahwa di balik setiap produk, ada manusia yang hidupnya bergantung pada pilihan kita sebagai konsumen.