news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Sumber :
  • Reuters/Clodagh Kilcoyne

Respons Menohok Benjamin Netanyahu setelah Israel Dicap Penjajah oleh Obama: Kami Bukan Belanda di Indonesia

PM Israel, Benjamin Netanyahu tidak terima bangsa Yahudi disebut sebagai penjajah tanah Palestina hingga kehilangan moral oleh mantan Presiden AS, Barack Obama.
Selasa, 20 Oktober 2026 - 07:21 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu melontarkan bantahan terhadap kritik dari mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama.

Benjamin Netanyahu mengaku telah mendengar kritikan tajam mengenai tindakan Israel terhadap rakyat Palestina. Ia pun membuat pernyataan yang disampaikan melalui sebuah video diunggah di platform X pada Jumat (16/10/2026).

Dalam rekaman itu, Benjamin Netanyahu menanggapi kritik yang menilai Israel telah mengambil tanah milik pihak lain atau penjajah dan kehilangan legitimasi moralnya.

"Beberapa waktu lalu, saya mendengar pernyataan yang amat sangat disayangkan. Pernyataan itu menyebutkan bahwa Israel telah mencuri tanah dan kehilangan landasan moral tertinggi. Saya akan merespons hal ini," ujar Netanyahu dikutip tvOnenews.com dari X via Viory, Selasa (20/10/2026).

Ia menegaskan bahwa, bangsa Yahudi bukan "penjajah asing" di wilayah yang mereka klaim sebagai tanah leluhur. Netanyahu berpendapat bahwa hubungan bangsa Yahudi dengan wilayah tersebut berakar pada sejarah yang mereka yakini sebagai tanah airnya.

Ia kemudian secara tegas menolak anggapan bahwa keberadaan Israel merupakan bagian dari praktik kolonialisme.

"Izinkan saya menjawab. Bangsa Yahudi bukanlah penjajah asing di tanah leluhur kami. Sejarah kami bukanlah sebuah upaya kolonial. Tanah kami bukanlah tanah curian. Ini adalah tanah air kami," terangnya.

Netanyahu juga menuding bahwa hambatan utama dalam upaya mewujudkan perdamaian bukan berasal dari Israel, melainkan dari pihak-pihak yang tidak menerima hak bangsa Yahudi untuk mendirikan negara sendiri.

"Kami bukan orang Belanda di Indonesia. Kami bukan orang Belgia di Kongo. Kami adalah orang Yahudi di Judea," ucapnya.

Lebih lanjut, Netanyahu menyebut penolakan terhadap keberadaan Israel sebagai salah satu persoalan mendasar yang menghambat terciptanya perdamaian di kawasan tersebut.

"Penghambat perdamaian bukanlah Israel. Bukan pula perjuangan kami demi hak untuk tetap ada di negara kami sendiri. Penghambatnya adalah penolakan dari musuh-musuh kami, yang juga merupakan musuh Amerika, untuk mengakui hak bangsa Yahudi untuk memiliki negara sendiri, dalam batas wilayah mana pun," paparnya.

Dalam kesempatan itu, Netanyahu turut mengaitkan ancaman terhadap Israel dengan sentimen anti-Amerika. Ia menggambarkan kedua negara menghadapi pihak-pihak yang menentang keberadaan mereka.

"Itulah penyebab mereka meneriakkan, 'mati untuk Israel', 'mati untuk Amerika'. Kami disebut sebagai 'setan kecil', sementara Anda disebut sebagai 'setan besar'. Kita sedang mempertahankan peradaban kita bersama," ucapnya.

Netanyahu menegaskan bahwa, Israel tidak akan mengorbankan kelangsungan negaranya demi kesepakatan damai yang menurutnya mengabaikan realitas sejarah dan ancaman keamanan.

"Perdamaian yang dibangun di atas ilusi akan hancur membentur karang realitas Timur Tengah. Israel tidak akan mempertaruhkan kelangsungan hidupnya demi mengakomodasi mereka yang menolak menerima fakta sejarah, menolak hak kami untuk ada, atau berkeinginan untuk memenuhi tuntutan teror," ujarnya.

Pernyataan Netanyahu muncul setelah Obama berbicara di Belfast pada Selasa sebelumnya. Di momen itu, Obama mengakui bahwa bangsa Yahudi memiliki sejarah panjang mengalami persekusi sehingga kebutuhan mereka akan perlindungan dapat dipahami.

Namun, ia juga mengkritik tindakan Israel terhadap Palestina. Obama menilai Israel telah "mengambil tanah dari orang lain dan bertindak berlebihan".

Obama memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan militer dan penguasaan wilayah secara terus-menerus dapat menggerus legitimasi moral Israel.

Menurutnya, kedua pihak baik Israel maupun Palestina, tetap akan hidup berdampingan di kawasan tersebut. Karena itu, ia mendorong perubahan pendekatan dan kesediaan memberikan konsesi agar perdamaian yang berkelanjutan dapat terwujud.

(hap)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:39
09:03
08:41
04:56
08:50
02:47

Viral