Konflik Rempang, UAS: Warga Tidak Tolak Investasi, Hanya Ogah Digusur Dari Tanah Leluhur
Jakarta, tvonenews.com - Penceramah kondang Ustadz Abdul Somad (UAS) terus menyuarakan solidaritas dan pembelaannya kepada warga 16 Kampung Tua Pulau Rempang, Batam. UAS menegaskan warga tidak menolak investasi namun menolak untuk direlokasi dari 16 Kampung Tua yang sudah ada sejak tahun 1700-an.
Hal itu disampaikan UAS dengan membagikan sebuah artikel tulisan tokoh masyarakat Riau mengenai sejaran Pulau Rempang, Azlaini Agus, yang diunggahnya di Instagram ustadzabdulsomad_official, sebagaimana dipantau Sabtu (16/9/2023).
"Warga Rempang tidak menolak masuknya investasi jika memang negara membutuhkan investasi tersebut, mereka hanya menolak DIGUSUR dari tanah leluhurnya," tulis UAS.
"Mereka menolak dipindahkan dari kampung2 tua yang sudah mereka huni sejak 300 tahun yang lalu secara turun temurun," lanjut UAS.
Menurut tulisan yang diunggah UAS, warga Rempang baru mengetahui adanya rencana Pembangunan megaproyek Rempang Eco City pada awal Agustus 2023 dari berita di media. Tidak ada sosialisasi resmi dari pemerintah sebelumnya.
Kemudian, sejak awal Agustus 2023 pihak BP Batam berusaha masuk ke Pulau Rempang untuk memasang patok di atas tanah yang sudah diberikan kepada investor, tetapi tidak berhasil karena warga masyarakat mengusir setiap kali orang-orang BP Batam datang ke Rempang.
"Tanggal 23 Agustus 2023, seluruh warga masyarakat Rempang dan pulau2 sekitarnya dengan 6.000 massa menggelar Aksi Unjuk Rasa MENOLAK RELOKASI," tulis UAS.
Aksi Unjuk Rasa dengan 6.000 warga tidak mendapat tanggapan dari Kepala BP Batam dengan alasan bahwa ini perintah Presiden karena ini proyek pemerintah pusat.
Kemudian pada tanggal 07 September 2023, 1.000 personil gabungan POLRI, TNI, SATPOL PP, dipimpin oleh Kapolresta Barelang "memaksa masuk" ke Pulau Rempang untuk memasang patok lahan investor.
"Seluruh warga masyarakat bertahan di Jembatan IV, satu2nya akses jalan masuk ke Pulau Rempang. Di sini terjadi insiden antara aparat dengan warga, puluhan warga mengalami luka2 akibat pukulan dan tindak kekerasan aparat, dan dilarikan ke rumah sakit," tulis UAS.
"Juga termasuk anak2 sekolah, bahkan seorang bayi yang menjadi korban gas air mata yang ditembakkan aparat secara membabi buta," sambungnya.