- IST
David Herson Optimis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 8 Persen
Jakarta, tvOnenews.com - Mantan anggota TKN prabowo gibran, sekaligus komisaris independen PT Wika Realty optimis bahwa dibawah pemerintahan presiden Prabowo dan wakil presiden Gibran rakabuming raka serta seluruh jajaran kabinet merah putih yang ada, Indonesia akan mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8 Persen.
Namun David mengatakan bahwa untuk mencapai hal tersebut, pengelolaan ekonomi harus dilakukan secara efisien dan berbasis pada logika serta perhitungan yang akurat.
David juga menyoroti pentingnya peran sektor swasta dalam pembangunan nasional, khususnya di bidang infrastruktur.
“Peran pemerintah untuk mampu berkolaborasi dengan pihak swasta itu sangat penting, sekalipun pada pelaksanaannya harus diawasi dengan benar agar tidak terjadi kebocoran seperti sebelum-sebelumnya”
Davidpun memuji keberhasilan pemerintahan prabowo gibran terutama dalam hal ketahanan pangan. Seperti diketahui menurut laporan Kementerian Pertanian, stok cadangan beras pemerintah (CBP) menembus angka 4 juta ton. Ini merupakan capaian tertinggi dalam sejarah. Sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan produksi beras nasional Januari - Mei 2025 diperkirakan mencapai 16,55 juta ton, naik 11,95% dari tahun sebelumnya.
“ Sebabnya, swasembada pangan itu merupakan kunci dari kedaulatan, juga keamanan bangsa. Sebab Tidak ada bangsa yang merdeka kalau tidak produksi pangannya sendiri. Dan kita berhasil untuk itu, bahkan kita tidak lagi impor beras. Karena itu saya sangat yakin, jika ketahanan pangan dan energi terus meningkat, maka ekonomi kita akan semakin membaik kedepannya” imbuh david
Bahkan di dalam pidatonya, Presiden Prabowo Subianto yakin proyeksi Goldman Sachs bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2050 akan terjadi.
Sejumlah ekonom menyatakan butuh kerja keras untuk bisa mewujudkan proyeksi itu. Bahkan beberapa ekonom indonesia mengatakan peluang Indonesia untuk menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2050 mungkin saja terjadi karena potensi bonus demografi. Namun menurutnya pemerintah harus melakukan reformasi structural, baik pada kebijakan ekonomi maupun birokrasi yang dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi ke depan. (ebs)