- IST
Satpol PP Bongkar Sarang Prostitusi Online di IKN, Ratusan Juta Rupiah Berputar Tiap Malam!
Penajam Paser Utara, tvOnenews.com – Ibu Kota Nusantara (IKN) yang digadang-gadang sebagai wajah baru Indonesia, kini diguncang kabar tak sedap! Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) blak-blakan mengungkap praktik prostitusi daring yang marak di sekitar wilayah strategis ini. Hingga Juni 2025, puluhan wanita malam telah digaruk, membuka tabir bisnis gelap dengan omzet fantastis!
Kepala Satpol PP PPU, Bagenda Ali, menegaskan komitmennya untuk membersihkan IKN dari penyakit masyarakat. "Kami pantau dan lakukan operasi penertiban praktik prostitusi daring maupun luring di sekitar wilayah IKN," ujar Ali, Minggu (7/7/2025). Misi mereka jelas: menjadikan calon ibu kota negara ini bersih dari noda sosial.
Dalam kurun waktu 2025, operasi besar-besaran Satpol PP menyasar seluruh kecamatan, termasuk Kecamatan Sepaku yang notabene adalah jantung IKN. Meski IKN kini di bawah Otorita tersendiri, penegakan perda tetap di pundak Pemkab PPU, membuat patroli tak pernah kendur.
Angka yang diungkapkan Bagenda Ali sangat mencengangkan: dalam tiga kali operasi terakhir di Sepaku saja, 64 wanita diduga pramunikmat berhasil diamankan! "Operasi pertama petugas tertibkan dua orang pelaku, dan operasi kedua 32 orang ditertibkan, serta operasi ketiga 30 orang ditertibkan," rinci Ali.
Tarik Pelanggan Via Online, Tarif Kencan Bikin Melotot: Rp700 Ribu Sekali Main!
Hasil investigasi Satpol PP mengungkap modus operandi para wanita malam ini. Mayoritas dari mereka mengandalkan aplikasi media sosial untuk menarik pelanggan. Mereka menyewa kamar-kamar penginapan di sekitar IKN dengan tarif Rp300 ribu per malam.
Dan yang paling mengejutkan adalah tarif jasa yang ditawarkan: "Pelaku prostitusi menawarkan jasa dengan harga antara Rp400 ribu hingga Rp700 ribu sekali kencan," beber Ali. Bisa dibayangkan, jika satu PSK melayani beberapa pelanggan dalam semalam, potensi perputaran uang di balik bisnis haram ini mencapai ratusan juta rupiah setiap malamnya!
Ali juga membeberkan asal-usul para wanita malam yang terjaring razia. Mereka bukan hanya dari Kalimantan Timur (Samarinda, Balikpapan), tapi juga jauh-jauh datang dari kota-kota besar lain di Indonesia, seperti Bandung, Makassar, hingga Yogyakarta. Setelah pembinaan, mereka yang berasal dari luar daerah diperintahkan untuk segera angkat kaki dari PPU dalam dua hingga tiga hari.