- ANTARA FOTO/IPPHOS/Rei/Koz/1966
Misteri G30S PKI: Alasan Soekarno Tak Bubarkan PKI dan Pengakuan Soeharto
Jakarta, tvOnenews.com – Tragedi kelam Gerakan 30 September atau G30S PKI tahun 1965 masih menjadi misteri besar dalam sejarah bangsa Indonesia.
Peristiwa berdarah itu menewaskan enam jenderal dan satu perwira tinggi sekaligus mengubah arah politik tanah air.
Pasca tragedi kemarahan rakyat membara. Desakan untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) menggema di berbagai daerah.
- Kolase Istimewa & Antara
Massa menggelar demonstrasi besar-besaran, bahkan membakar kantor-kantor PKI. Namun, meski tekanan begitu kuat, Presiden Soekarno tetap bersikeras untuk tidak membubarkan partai tersebut.
Keputusan ini menimbulkan tanda tanya. Belakangan, Jenderal Soeharto mengungkapkan pandangan Bung Karno mengenai PKI, yang memperlihatkan alasan mendasar di balik sikap kontroversial itu.
Menurut Soeharto sikap Soekarno sudah terbentuk jauh sebelum tragedi G30S. Sebagai penggagas konsep Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis), Bung Karno memandang PKI sebagai bagian penting dari revolusi Indonesia.
"Situasi konflik tidak bisa diatasi karena apa? Bung Karno sendiri tidak mau membubarkan PKI. Apa sebabnya? Tadi, mengenai Nasakom," ungkap Soeharto.
Soekarno bahkan memperkenalkan Nasakom hingga ke panggung internasional, termasuk saat berpidato di PBB. Dalam pandangannya, membubarkan PKI justru akan menghancurkan fondasi revolusi yang sedang ia bangun.
Selain faktor ideologi, hubungan Indonesia dengan negara-negara komunis seperti Uni Soviet dan China juga jadi pertimbangan.
Membubarkan PKI dikhawatirkan merusak hubungan diplomatik sekaligus mengisolasi Indonesia dari jaringan internasionalnya saat itu.
- Istimewa
Soeharto juga mengungkap pandangan Soekarno terkait kematian para jenderal. Bung Karno menyebut peristiwa itu sebagai bagian dari arus revolusi besar yang tengah berlangsung.
"Beliau bahkan mengatakan anggaplah ini revolusi, kematian para Jenderal itu seperti riak-riak dalam gelombang samudera," kata Soeharto.
Namun bagi Soeharto, persoalan utama bukan sekadar terbunuhnya para jenderal, melainkan ancaman ideologi komunis terhadap Pancasila.
"Masalahnya bukan sekadar pembunuhan jenderal, tapi lebih besar dari itu, yakni ancaman terhadap eksistensi Negara Pancasila yang bisa tergantikan oleh ideologi komunis," tegasnya.