news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Kongres III Projo..
Sumber :
  • Instagram/DPP Projo

Transformasi Projo: Budi Arie Ubah Logo, Tegaskan Tak Lagi Kultus Individu dan Tetap Bukan Partai Politik

Projo ubah logo tanpa wajah sosok untuk hilangkan kesan kultus individu. Nama tetap Projo, bukan singkatan Pro Jokowi, tapi bermakna rakyat dan negeri.
Minggu, 2 November 2025 - 16:35 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com — Organ relawan Projo resmi memulai babak baru dengan langkah transformasi besar dalam Kongres III yang digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, 1–2 November 2025. Salah satu keputusan penting yang mencuri perhatian publik adalah rencana perubahan logo Projo yang tidak lagi menampilkan wajah Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, menegaskan perubahan logo ini bukan sekadar kosmetik, melainkan bagian dari transformasi organisasi menuju arah baru yang lebih mandiri dan berorientasi pada nilai, bukan sosok.

“Projo akan melakukan transformasi organisasi, yang salah satunya adalah kemungkinan mengubah logo Projo. Logo Projo akan kita ubah supaya tidak terkesan kultus individu,” ujar Budi Arie seusai pembukaan kongres, Sabtu (1/11/2025).

Langkah ini menandai perubahan citra Projo dari kelompok relawan yang dikenal dekat dengan Presiden Jokowi, menuju organisasi yang lebih inklusif dan fokus pada nilai-nilai kebangsaan.

Tidak Lagi Kultus Individu

Selama ini, logo Projo identik dengan wajah Jokowi—simbol kuat keterikatan antara organisasi relawan ini dan sosok Presiden ke-7 RI. Namun, Budi Arie menilai sudah saatnya Projo melepaskan ketergantungan pada figur individu.

“Kita ingin menunjukkan bahwa Projo bukan organisasi yang mengultuskan seseorang. Ini bagian dari kedewasaan politik relawan,” tegasnya.

Kendati logonya akan berubah, nama Projo tetap dipertahankan. Budi Arie menegaskan bahwa istilah “Projo” bukan singkatan dari “Pro Jokowi” seperti yang selama ini banyak disalahartikan publik.

“Projo itu artinya negeri dan rakyat. Dalam bahasa Sanskerta, Projo berarti negeri, sedangkan dalam bahasa Jawa Kawi artinya rakyat. Jadi kaum Projo adalah kaum yang mencintai negara dan rakyatnya,” jelas Budi Arie.

Dengan penjelasan tersebut, ia berharap masyarakat memahami bahwa identitas Projo jauh melampaui keterkaitannya dengan satu tokoh politik.

Transformasi, Bukan Partai Politik

Dalam Kongres III ini, Budi Arie juga menepis anggapan bahwa transformasi Projo adalah langkah awal menuju pembentukan partai politik baru. Menurutnya, Projo tetap akan berperan sebagai organisasi relawan yang fokus mendukung program pemerintah dan memperkuat partisipasi rakyat dalam pembangunan.

“Projo tidak akan bertransformasi menjadi partai politik. Kami tetap di jalur relawan yang berorientasi pada kepentingan rakyat dan negara,” tegasnya.

Kongres kali ini juga dihadiri oleh pengurus dari seluruh Indonesia dan membahas arah organisasi dalam mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Selain transformasi logo, agenda penting lainnya adalah penguatan struktur relawan dan konsolidasi di tingkat daerah.

Sinyal Politik dan Arah Baru

Transformasi Projo juga dibaca sebagai sinyal politik baru dalam lanskap relawan nasional. Setelah selama satu dekade identik dengan Jokowi, langkah perubahan logo ini menunjukkan keinginan Projo untuk tetap eksis di era pemerintahan baru tanpa kehilangan akar perjuangan rakyat.

“Kita bertransformasi, tapi nilai-nilai kebangsaan tetap menjadi dasar. Projo akan terus mengabdi untuk negeri,” ujar Budi Arie menutup sambutannya.

Dengan langkah ini, Projo berupaya menegaskan diri sebagai organisasi relawan yang dewasa secara politik, berorientasi pada ide dan gagasan kebangsaan, bukan pada sosok. Transformasi logo menjadi simbol bahwa perjuangan Projo kini melampaui figur—menuju gerakan rakyat yang sejati. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

14:29
09:58
23:28
07:28
04:36
01:10

Viral