- Ist
KNKT Duga Pesawat ATR 42 Hilang Kontak di Maros Hantam Gunung, ELT Tak Kirim Sinyal Darurat
Jakarta, tvOnenews.com - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap dugaan awal terkait pesawat ATR 42 hilang kontak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. KNKT menilai tidak berfungsinya Emergency Locator Transmitter (ELT) atau alat pemancar sinyal darurat mengarah pada kemungkinan pesawat ATR 42 hilang kontak tersebut menabrak gunung.
Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, dalam kondisi kecelakaan dengan benturan keras, ELT bisa rusak sehingga tidak mampu mengirim sinyal lokasi. Hal ini menjadi salah satu petunjuk awal dalam kasus pesawat ATR 42 hilang kontak di Maros yang hingga kini masih dalam proses pencarian.
“Ada namanya ELT, Emergency Locator Transmitter. Tapi kalau pesawat nabrak gunung, kalau benar dia nabrak gunung, biasanya ELT-nya tidak bekerja karena hancur juga,” kata Soerjanto kepada wartawan, Sabtu (17/1/2026) malam.
ELT Tak Aktif, Tim SAR Fokus Pencarian Manual
ELT merupakan perangkat penting dalam sistem keselamatan penerbangan. Alat ini berfungsi memancarkan sinyal darurat secara otomatis saat pesawat mengalami kecelakaan, sehingga memudahkan tim SAR menemukan titik jatuh pesawat.
Namun, dalam peristiwa pesawat ATR 42 hilang kontak di Maros, sinyal ELT tidak terdeteksi. Kondisi tersebut membuat tim SAR kini mengandalkan pencarian manual di darat dan udara, khususnya di kawasan pegunungan Bulusaraung yang diduga menjadi lokasi jatuhnya pesawat ATR 42 hilang kontak tersebut.
“Jadi tidak bisa memancarkan sinyal,” ujar Soerjanto menegaskan.
Ia berharap lokasi pesawat ATR 42 hilang kontak segera ditemukan agar proses evakuasi korban bisa dilakukan, sekaligus memungkinkan tim untuk menemukan black box. Perangkat perekam penerbangan itu sangat penting dalam mengungkap penyebab pasti kecelakaan pesawat.
“Kalau bisa menemukan black box saat mengevakuasi korban, kami sangat berharap juga ditemukan black box-nya,” kata Soerjanto.
KNKT Fokus Dukung SAR, Investigasi Menyusul
Meski sudah menyampaikan dugaan awal, KNKT menegaskan saat ini masih memprioritaskan operasi kemanusiaan. Proses investigasi resmi baru akan dilakukan setelah operasi pencarian dan evakuasi oleh Basarnas selesai.
“Kami akan membantu Basarnas dulu. Setelah operasi kemanusiaan selesai baru KNKT akan takeover. Tapi yang pertama memang operasi SAR dulu,” jelas Soerjanto.
Pesawat ATR 42 hilang kontak ini diketahui milik Indonesia Air Transport (IAT) dan dilaporkan kehilangan komunikasi saat dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu siang (17/1/2026). Sejak saat itu, pencarian intensif dilakukan di wilayah Maros dan sekitarnya.
Basarnas Perbarui Data Manifes Pesawat ATR 42 Hilang Kontak
Basarnas Makassar sebelumnya juga memperbarui data manifes pesawat ATR 42 hilang kontak tersebut. Total penumpang dan kru kini dipastikan berjumlah 10 orang, bukan 11 seperti laporan awal.
“Kami sampaikan ada perubahan POB yang tadinya 11 menjadi 10 orang. Setelah dikonfirmasi, kru dari 8 menjadi 7 dan penumpangnya tetap 3 orang,” ujar Kepala Basarnas Makassar Muhammad Arif Anwar.
Dari tujuh kru pesawat ATR 42 hilang kontak tersebut terdiri dari pilot, second in command (SIC), satu Flight Operation Officer (FOO), dua Engineer on Board (EOB), serta dua Flight Attendant (FA).
Daftar kru pesawat ATR 42 hilang kontak:
-
Captain Andi Dahananto
-
SIC FO Farhan Gunawan
-
FOO Hariadi
-
EOB Restu Ad P
-
EOB Dwi Murdiono
-
FA Florencia Lolita
-
FA Esther Aprilita S
Daftar penumpang pesawat ATR 42 hilang kontak:
-
Mr Deden
-
Mr Ferry
-
Mr Yoga
Hingga kini, tim SAR masih menyisir wilayah pegunungan di Maros dan Pangkep untuk mencari titik jatuh pesawat ATR 42 hilang kontak tersebut. KNKT mengimbau masyarakat tidak berspekulasi dan menunggu hasil resmi investigasi setelah proses pencarian dan evakuasi selesai dilakukan. (nsp)