- tvOnenews - Abdul Gani Siregar
Rekam Jejak Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono yang Pingsan saat Penghormatan Terakhir Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500
Ia kemudian mendirikan PT Teknologi Riset Global (TRG) Investama yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari telekomunikasi, teknologi, properti, media, hingga e-commerce.
Berkat kiprahnya di bisnis menara telekomunikasi, Trenggono dijuluki sebagai “Raja Menara”. Pada periode 2000–2009, ia menjabat Direktur Utama PT Solusindo Kreasi Pratama yang membawahi PT Tower Bersama Infrastruktur dengan lebih dari 14 ribu menara BTS.
Ia juga pernah menjabat Ketua Umum Asosiasi Pengembang Infrastruktur Menara Telekomunikasi Indonesia periode 2005–2016.
Selain itu, Trenggono tercatat pernah menduduki posisi Komisaris Utama PT Teknologi Riset Global Investama serta komisaris di perusahaan tambang emas PT Merdeka Copper Gold Tbk.
- Istimewa
Kiprah Politik dan Pemerintahan
Langkah Trenggono ke dunia politik dimulai saat bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN). Namanya mulai dikenal secara nasional ketika dipercaya menjadi Bendahara Tim Kampanye Nasional pasangan Joko Widodo–KH Ma’ruf Amin pada Pemilihan Presiden 2019.
Pada Oktober 2019, Presiden Jokowi menunjuk Trenggono sebagai Wakil Menteri Pertahanan untuk mendampingi Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.
Setahun berselang, tepatnya 23 Desember 2020, ia dilantik menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan menggantikan Edhy Prabowo.
Selama memimpin KKP, Trenggono dikenal mendorong tiga agenda utama, yakni peningkatan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor perikanan, peningkatan kesejahteraan nelayan, serta penguatan perikanan budidaya nasional.
Menteri Terkaya di Kabinet
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dipublikasikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 26 Maret 2024, Sakti Wahyu Trenggono tercatat sebagai menteri dengan kekayaan terbesar di Kabinet Merah Putih.
Total kekayaan Trenggono mencapai Rp2.665.900.513.951 atau sekitar Rp2,6 triliun. Aset tersebut meliputi kepemilikan tanah dan bangunan senilai Rp91 miliar lebih yang tersebar di sejumlah daerah, alat transportasi dan mesin senilai Rp1,8 miliar, harta bergerak lainnya senilai Rp22,9 miliar, surat berharga senilai Rp2,22 triliun, kas dan setara kas sebesar Rp156 miliar, serta harta lainnya senilai Rp166 miliar.
Dalam laporan tersebut, Trenggono tidak tercatat memiliki utang, sehingga seluruh nilai tersebut merupakan kekayaan bersih.