- istimewa - antaranews
IHSG Anjlok, Luhut Minta Investor Tetap Tenang dan Fokus Perbaikan Pasar
Jakarta, tvOnenews.com - IHSG anjlok pada perdagangan awal pekan ini dan memicu kekhawatiran sebagian pelaku pasar. Namun, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan meminta investor untuk tidak panik merespons koreksi tersebut. Ia menilai, kondisi IHSG anjlok justru dapat dimanfaatkan sebagai momentum perbaikan struktural pasar modal Indonesia.
Menurut Luhut, dinamika yang membuat IHSG anjlok tidak terlepas dari evaluasi dan sorotan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar saham domestik. Ia menegaskan bahwa penilaian tersebut bukan sinyal melemahnya fundamental ekonomi Indonesia, melainkan refleksi atas area yang perlu dibenahi agar pasar modal semakin kredibel dan berdaya saing.
“Kita tidak perlu panik. Peringatan MSCI adalah cerminan yang jujur atas hal-hal yang perlu diperbaiki. Ini momentum untuk membangun pasar modal yang kredibel, dipercaya investor karena sistemnya kuat, bukan karena spekulasi,” kata Luhut dalam keterangan resminya, Senin (2/2/2026).
Ia menambahkan, IHSG anjlok dalam jangka pendek merupakan bagian dari mekanisme pasar yang wajar. Fluktuasi tersebut, menurutnya, tidak mencerminkan perubahan mendasar pada kondisi ekonomi nasional. Oleh karena itu, ia meminta investor untuk tetap rasional dan tidak mengambil keputusan berdasarkan sentimen sesaat.
Luhut juga menilai koreksi yang membuat IHSG anjlok seharusnya dipandang sebagai peluang untuk mempercepat reformasi struktural di sektor pasar modal. Pemerintah, kata dia, ingin mendorong sistem perdagangan yang lebih sehat, transparan, adil, serta semakin kompetitif di tingkat regional maupun global.
Ia mengimbau investor domestik untuk tetap tenang di tengah kondisi IHSG anjlok dan tidak terbawa arus kepanikan. Pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), serta otoritas terkait akan memperkuat pengawasan terhadap aktivitas perdagangan saham.
“Pengawasan transaksi tidak wajar akan diperketat, penegakan aturan terhadap praktik manipulasi akan ditingkatkan, serta komunikasi pasar akan diperkuat agar lebih cepat dan jelas. Perlindungan investor dan stabilitas pasar menjadi prioritas utama,” tegas Luhut.
Sementara itu, tekanan pasar yang menyebabkan IHSG anjlok terlihat sejak sesi pertama perdagangan Senin (2/2/2026). Seluruh sektor saham tercatat berada di zona merah. Analis menilai sentimen MSCI masih membayangi pergerakan indeks saham domestik sehingga membuat IHSG anjlok cukup dalam.
Mengutip data RTI, IHSG anjlok 5,31 persen ke level 7.887,16. Indeks saham LQ45 juga terkoreksi 3,98 persen ke posisi 800,37. Seluruh indeks acuan mengalami pelemahan seiring meningkatnya aksi jual investor.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menuturkan bahwa pergerakan IHSG anjlok masih rawan berlanjut dalam jangka pendek. Menurutnya, pasar saat ini cenderung bersikap wait and see terhadap hasil pertemuan antara BEI dan MSCI terkait transparansi data free float.
“Selain itu, IHSG anjlok juga dibebani oleh saham-saham emiten konglomerasi dan emiten berbasis emas, seiring terkoreksinya harga emas dunia,” ujarnya.
Pada sesi pertama perdagangan, IHSG sempat bergerak di kisaran tertinggi 8.313,05 dan terendah 7.858,39. Sebanyak 715 saham melemah, 33 saham stagnan, dan hanya 65 saham yang menguat. Tekanan jual yang meluas di hampir seluruh sektor menjadi faktor utama yang membuat IHSG anjlok.
Total frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.080.849 kali dengan volume transaksi mencapai 35,4 miliar saham. Nilai transaksi harian mencapai Rp18,9 triliun, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp16.796 per dolar AS.
Secara sektoral, seluruh sektor saham berada di zona merah. Sektor basic mencatat koreksi terdalam dengan penurunan 11,19 persen. Disusul sektor energi yang melemah 7,87 persen, sektor industri turun 5,81 persen, sektor consumer siklikal merosot 7,92 persen, serta sektor consumer nonsiklikal turun 2,32 persen.
Selain itu, sektor kesehatan terkoreksi 2,05 persen, sektor properti turun 6,39 persen, sektor teknologi melemah 5,37 persen, sektor infrastruktur terpangkas 6,52 persen, dan sektor transportasi turun 5,84 persen. Tekanan merata di seluruh sektor ini mempertegas kondisi IHSG anjlok sepanjang sesi perdagangan.
Meski demikian, Luhut kembali menegaskan bahwa IHSG anjlok tidak seharusnya dimaknai sebagai sinyal memburuknya perekonomian nasional. Ia menilai, kondisi ini justru menjadi momentum penting untuk memperkuat tata kelola pasar modal agar semakin transparan, kredibel, dan mampu menarik investasi jangka panjang. (nsp)