- Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT
Gubernur Ungkap Alasan Keluarga Siswa SD Bunuh Diri di NTT Tak Terima Bansos
Jakarta, tvOnenews.com – Fakta baru terungkap dalam kasus siswa SD bunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Gubernur NTT Melki Laka Lena menyatakan bahwa keluarga korban ternyata tidak tercatat sebagai penerima bantuan sosial (bansos) pemerintah.
Kondisi administrasi kependudukan disebut menjadi salah satu penyebab orang tua korban tidak masuk dalam daftar penerima bantuan. Pemerintah daerah pun diminta segera melakukan pembenahan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Ini saya tahu ternyata data kependudukannya tidak ditopang. Dia pindah dari Nagekeo ke Jerebuu ternyata adminduk dia belum diamankan,” kata Melki, dikutip Kamis (5/2/2026).
Ia menegaskan persoalan tersebut seharusnya bisa segera diselesaikan karena hanya menyangkut kelengkapan administrasi.
“Inikan cuman soal kertas selembar. Segera bereskan, yang begini-begini kan seharusnya tidak terjadi,” tambah dia.
Meski demikian, Melki mengaku tidak ingin menyalahkan pihak mana pun atas tidak diterimanya bantuan oleh keluarga korban. Ia lebih menekankan pentingnya pembenahan sistem pendataan agar tepat sasaran.
Melki berharap tragedi serupa tidak kembali terjadi. Ia menginstruksikan seluruh kepala daerah untuk memastikan pendataan keluarga miskin dilakukan secara menyeluruh dan akurat, sehingga warga yang berhak benar-benar menerima bantuan sosial.
Selain itu, pemerintah daerah disebut telah berdiskusi untuk memberikan perhatian khusus kepada keluarga korban, termasuk rencana pembangunan rumah layak huni dan bantuan material lainnya.
Diberitakan sebelumnya, seorang siswa SD bunuh diri di Kabupaten Ngada dengan cara gantung diri di pohon cengkeh. Bocah tersebut meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya yang berinisial MGT (47).
Dalam surat yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan:
“Surat buat Mama *
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama”.
Diketahui, korban tinggal bersama neneknya. Sementara sang ibu, yang merupakan orang tua tunggal, bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.
Kasus ini menjadi perhatian publik dan mendorong evaluasi terhadap sistem pendataan bantuan sosial serta perlindungan terhadap keluarga rentan di Nusa Tenggara Timur. (ant/nba)