- Istimewa
Pengakuan Keluarga Terkait Tabiat Kopilot Smart Air yang Tewas Ditembak KKB
Jakarta, tvOnenews.com - Baru-baru ini Keluarga beberkan tabiat kopilot pesawat Smart Air Capt Baskoro Adi Anggoro, yang tewas ditembak kelompok kriminal bersenjata (KKB) saat mendarat di Bandara Korowai, Papua. Bahkan, keluarganya menyoroti minimnya pengamanan di bandara tersebut.
Hal ini dibeberkan paman korban, Doni (56) kepada awak media, di rumah duka, Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Jumat (13/2/2026).
Kemudian, Doni juga beberkan bahwa peristiwa itu seharusnya menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk mengevaluasi aspek keselamatan dan keamanan penerbangan, khususnya di daerah rawan.
"Harusnya, penerbangan sipil itu ada pengamanan. Ini kok tidak ada. Orang tua juga sempat kaget, kenapa tidak dijaga," ucap Doni.
Kemudian ia menilai, sebelum berangkat menjalankan tugas, orang tua Baskoro sempat merasa ragu dan khawatir dengan kondisi bandara tujuan.
Kekhawatiran itu muncul, kata dia, karena lokasi tersebut dikenal memiliki tingkat keamanan yang terbatas.
"Orang tuanya sempat nanya, 'aman tidak?', dia jawab aman. Mungkin dia tidak mau bikin orang tuanya khawatir," beber Doni.
Untuk diketahui, Baskoro diketahui baru lima hari menjalani penugasan ke Papua. Meski telah lima tahun berkarier sebagai pilot, almarhum jarang terbang ke wilayah tersebut.
Kemudian, ia jelaskan, bahwa penugasan itu juga disebut datang secara mendadak, yakni setelah Baskoro sempat menjalani perawatan medis sebelumnya.
"Dia habis sakit, habis dirawat (opname). Tiba-tiba dapat tugas ke Papua, terus langsung berangkat," kata Doni.
Lebih lanjuta ia menjelaskan, bahwa keluarga pertama kali menerima kabar mengenai insiden tersebut dari kerabat yang merupakan senior Baskoro dan berada dalam penerbangan yang sama. Informasi itu disampaikan melalui pesan singkat.
"Awalnya, dikabari ada insiden. Katanya, masih ada sinyal GPS, jadi kami berharap masih ada pertolongan. Tapi setelah itu, dapat kabar lagi kalau sudah gugur," ucap Doni.
Selain itu, ia menilai insiden yang menimpa Baskoro itu menunjukkan masih lemahnya sistem pengamanan penerbangan sipil di wilayah tertentu, khususnya di Papua.
Dia menegaskan pengamanan bandara dan jalur penerbangan seharusnya menjadi tanggung jawab negara, terutama jika menyangkut keselamatan awak pesawat dan penumpang.