- Syifa Aulia/tvOnenews.com
Tjiam Si, Ritual Mengintip Nasib Masa Depan Warga Tionghoa
Jakarta, tvOnenews.com - Tjiam Si namanya, ritual tradisional untuk mengintip nasib masa depan. Ritual ini dilakukan warga Tionghoa ketika bersembahyang di kelenteng atau vihara.
Dalam momen Tahun Baru Imlek 2026, warga Tionghoa atau umat Konghucu ramai-ramai melakukan Tjiam Si.
Rendi selaku penjaga Vihara Dharma Bhakti menjelaskan bahwa ritual ini bukanlah permainan, melainkan bagian dari ibadah kepada Dewa untuk meminta petunjuk soal masa depan. Menurutnya, umat bisa bertanya apapun kepada Dewa.
“Itu adalah suatu kegiatan kita bertanya meminta petunjuk dari Dewa. Petunjuk itu berdasarkan apa yang kita ingin tanyakan,” ucap Rendi di Vihara Dharma Bhakti, Jakarta Barat, Selasa (17/2/2026).
- Syifa Aulia/tvOnenews.com
“Misalnya, saya ingin menanyakan tentang karir saya sepanjang tahun ini. Jadi kita tanya berdasarkan karakter si Dewanya tersebut,” sambungnya.
Namun, ritual ini dilakukan setelah mereka selesai melaksanakan sembahyang.
“Pertama-tama kita harus sembahyang. Sembahyang untuk satu wilayah. Nah, setelah sembahyang itu, kita bertanya kepada Dewa yang ingin kita tanyakan. Boleh enggak nih kita bertanya,” ujarnya.
Perempuan Haid Tak Boleh Ikut
Dia menambahkan, ada ketentuan khusus bagi perempuan yang ingin mengikuti ritual. Mereka harus dalam keadaan bersih atau tidak sedang haid, dalam istilah Tionghoa disebut “Yang Peng”.
Jika permohonan untuk bertanya sudai disetujui melalui ritual, umat kemudian bisa melakukan Tjiam Si.
Rendi menjelaskan sistem penomoran Tjiam Si berbeda di setiap vihara. Ada yang menggunakan nomor 1 sampai 30, ada pula 1 sampai 60.
“Kebetulan kita (di Vihara Dharma Bhakti) ada yang 1 sampai 60, ada lagi yang di atas 1 sampai 30. Itu penomoran aja. Penomoran yang dinomorin dari Suhu,” jelasnya.
Jawaban Pakai Bahasa Mandarin
Dia menyebut setiap nomor mempunyai kertas jawaban berbeda. Isinya adalah pesan yang ditulis dengan Bahasa Mandarin ejaan lama, disertai terjemahan Bahasa Indonesia. Umat juga akan mendapat penjelasan dari penjaga vihara.
Saat melakukan Tjiam Si, Rendi menyebut batang bambu atau stik harus jatuh satu saat dikocok. Jika yang jatuh dua, maka proses harus diulang.