Ketua BEM UGM Ceritakan Awal Mula Pihaknya "Terpancing" Kirim Surat ke UNICEF, Ternyata Bermula dari Bencana di Sumatera
Jakarta, tvOnenews.com - Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto menceritakan awal mula pihaknya “terpancing” untuk mengirimkan surat ke UNICEF.
Hal ini diungkapkannya di tayangan YouTube Abraham Samad SPEAK UP berjudul “Diteror & Dapat Ancaman Pembunuhan. Ketua BEM UGM: MBG, Maling Berkedok Gizi? | #SPEAKUP” yang tayang pada 19 Februari 2026.
Dalam tayangan tersebut, Tiyo ditanya apa yang membuat pihaknya akhirnya mengirimkan surat ke UNICEF.
Tiyo pun menjawab pertanyaan itu dengan merefleksi peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi di Indonesia belakangan ini.
“Kita mengalami peristiwa yang tidak bisa kita pahami dalam kacamata kemanusiaan. Yang paling mendebarkan bagi kita adalah ketika bencana di Sumatera. Ada ribuan rumah tergusur, manusia dievakuasi. Kita mulai dari situ. Saya menyebut tidak ada berperikemanusiannya para penguasa dalam melihat bencana ini,” katanya.
“Yang paling membuat kita marah selain ketidakseriusannya dalam menyelamatkan manusia di sana, di lokasi bencana saja narasi yang sifanya fiktif dan kampanye masih diucapkan,” sambungnya.
Setelah bencana Sumatera, kata Tiyo, bencana alam terjadi di berbagai tempat. Dia memberi contoh soal banjir yang terjadi di Pulau Jawa pascabencana Sumatera.
Menurutnya, bencana tersebut merupakan respons alam atas kejahatan manusia.
“Evaluasi bermakna pemerintah terhadap pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan itu tidak dilakukan. Padahal bencana bukan persoalan bencana saja, tapi soal pengelolaan lingkungan yang tidak baik. Ini respons alam atas kejahatan manusia,” ujarnya.
Setelah membahas soal bencana, Tiyo pun membahas soal MBG yang ditulis pihaknya di surat yang dikirimkan kepada UNICEF tersebut.
“Kita lihat juga presiden menyampaikan di berbagai pidatonya, cara beliau merespons berbagai kritik atas MBG. Apapun forumnya, siapapun orang yang ditemuinya, selalu MBG narasinya,” kata Tiyo.
“Hal yang paling mendasar saja soal pengalokasian anggaran. Kita sejak bulan September sudah mengkritik anggaran. Anggaran pendidikan tidak boleh dirampas untuk MBG karena MBG sejak awal misinya bukan misi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi mengentaskan stunting. Lebih masuk akal pakai anggaran kesehatan ketimbang pendidikan,” sambung Tiyo saat menyampaikan pendapatnya.
Tiyo pun mengatakan puncaknya adalah saat ada anak SD di NTT yang memutuskan untuk menyelesaikan hidupnya setelah gagal membeli pena dan buku seharga Rp10 ribu.
“Ironisnya saat bersamaan negara setiap hari menggelontorkan Rp1,2 triliun untuk MBG. Itu puncak kemarahan publik yang kemudian BEM UGM merasa perlu merespons kebuntuan jalan-jalan perbaikan itu. Saya rasa warga dunia harus membantu rakyat Indonesia untuk bantu selamatkan rakyatnya karena kita punya presiden yang tidak bisa dikasih tahu apa-apa,” ucapnya.
Ketika ditanya kenapa pihaknya mengirimkan surat ke UNICEF alih-alih mengirimkannya ke DPR atau pihak-pihak terkait di dalam negeri, Tiyo menjawab karena adanya kemampatan di kanal-kanal perbaikan.
“Ringkasnya, ada kemampatan di bangsa kita. Kanal perubahan atau perbaikan buntu. Pascademo Agustus tuntutan publik 17+8 saja sampai sekarang kita tidak bisa percaya sama DPR,” jawabnya.
Diteror Usai Kirim Surat ke UNICEF
Setelah mengirimkan surat ke UNICEF, muncul pemberitaan bahwa Tiyo menerima pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan dari nomor kode negara Inggris.
Selain itu, dia juga mendapatkan pesan dari peneror yang menuduh Tiyo sebagai agen asing dan mencari panggung.
“Agen asing. Jangan cari panggung jual narasi sampah,” demikian isi pesan teror tersebut.
Terkait teror ini, Tiyo mengaku tidak takut sama sekali karena dia sudah menghitung apapun risikonya.
“Bagi saya, menghadapi ini dengan takut artinya teror itu berhasil. Saya harus menghadapi ini secara ksatria untuk menunjukkan teror itu gagal. Apapun risiko sudah kita hitung. Semoga bukan risiko terburuk yang kita alami,” katanya.
Di sisi lain, pihak Istana pada Rabu (18/2/2026) merespons kabar teror terhadap Tiyo. Menurut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, penyampaian kritik oleh mahasiswa merupakan hal yang sah.
Akan tetapi, kata dia, perlu dilakukan secara bertanggung jawab dengan mengedepankan etika dan adab.
"Menyampaikan kritik atau masukan itu selalu kami sampaikan bahwa itu sah-sah saja gitu. Nah, tetapi tentu kita mengimbau kepada semuanya ya untuk menyampaikan segala sesuatu itu dengan penuh tanggung jawab juga. Kemudian juga mengedepankan etika, adab, adab-adab ketimuran gitu loh," ujarnya.
Dia pun menegaskan bahwa penyampaian pendapat dan kritik merupakan bagian dari kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi.
Soal teror ini, Prasetyo menyebut hal tersebut akan dicek lebih lanjut.
"Nanti kita kita cek," pungkasnya. (nsi)