- Kolase Instagram/@tiyoardianto_
Diteror hingga Diancam Dibunuh, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Menyesal Sebut Prabowo Bodoh: Bukan Serangan Personal
Jakarta, tvOnenews.com - Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto menyampaikan permintaan maaf setelah pernyataannya yang menyebut Presiden Prabowo Subianto dengan istilah “bodoh” memicu polemik hingga viral di media sosial.
Permintaan maaf tersebut disampaikan dalam forum diskusi yang diunggah di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up. Tiyo Ardianto menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan ditujukan pada tata kelola pemerintahan, bukan pada aspek pribadi presiden.
Awal Kritik terhadap Pemerintah
Kontroversi bermula dari sikap kritis BEM UGM terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, terutama program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tiyo Ardianto sebelumnya mempertanyakan prioritas anggaran negara yang dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar seperti akses pendidikan dan kemiskinan.
Ia juga menyoroti kasus siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga bunuh diri karena kesulitan membeli perlengkapan sekolah. Peristiwa itu, menurutnya, menjadi potret kontras di tengah besarnya alokasi anggaran untuk program MBG.
Dalam salah satu unggahannya, Tiyo menulis kritik keras terhadap kepemimpinan nasional.
“PRESIDEN BODOH, Kita sedang dipimpin oleh orang bodoh yang tidak sadar bahwa dirinya bodoh dan karenanya tak pernah mau belajar, tapi justru memilih menularkan kebodohannya kepada yang lain. Ajaibnya orang pintar di sekelilingnya rela-rela saja dibuat bodoh dan dengan bangga menjunjung kebodohan pimpinannya,” tulisnya.
Pernyataan itu kemudian menuai pro dan kontra serta memicu gelombang respons dari berbagai pihak.
Tantangan Debat Terbuka
Di tengah polemik tersebut, Tiyo Ardianto juga melayangkan ajakan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk berdiskusi secara langsung di lingkungan kampus UGM. Ia menolak opsi pertemuan tertutup dan memilih forum terbuka agar mahasiswa dapat menguji data dan klaim kebijakan pemerintah secara langsung.
“Kalau Pak Presiden mau mendengar suara kami, silakan datang ke UGM. Kita siapkan medan terbuka untuk berdiskusi dengan mahasiswa. Silakan sampaikan apa pun yang Bapak percaya tentang data Bapak, maka mahasiswa akan mendebat itu,” ujarnya.
Menurut Tiyo Ardianto, dialog terbuka di ruang akademik merupakan bagian dari tradisi demokrasi dan kontrol sosial mahasiswa terhadap kekuasaan.
Permintaan Maaf
Atas kritikannya itu, Tiyo Ardianto mengaku mendapat teror mulai dari penculikan hingga ancaman pembunuhan lantaran pernyataannya menuai kontroversi setelah ia menggunakan kata "bodoh" kepada Prabowo. Ia kemudian menyampaikan permintaan maaf atas dampak diksi tersebut.
“Presiden kita itu, kalau bahasa saya, bodoh. Mungkin ada beberapa yang tidak nyaman dengan bahasa ini, dan iya, saya minta maaf atas ketidaknyamanan itu,” ucapnya.
Namun ia menegaskan kritik tersebut tidak ditujukan pada aspek personal.
“Bodoh yang dimaksud di sini adalah inkompetensi yang laten,” jelasnya.
Respons Menteri HAM
Menteri HAM Natalius Pigai turut menanggapi kritik Tiyo Ardianto terhadap pemerintah. Ia menyatakan kritik merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar penyampaian pendapat tetap menjaga etika publik.
Pigai juga menegaskan bahwa negara tidak mentoleransi segala bentuk intimidasi terhadap warga negara yang menyampaikan pendapatnya. Ia memastikan setiap laporan terkait dugaan ancaman akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Istana terkait permintaan maaf maupun tantangan debat terbuka yang disampaikan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto tersebut. (nba)