- Instagram @bem.ugm
Ketua BEM UGM Buka-Bukaan Soal Teror Tak Biasa yang Diterimanya Setelah Kritisi MBG, Ternyata 40 Anggotanya Juga Dapat Ancaman Serupa
Jakarta, tvOnenews.com - Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto buka-bukaan soal teror yang diterimanya setelah nyatakan sikap tegas soal program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Diketahui, Tiyo mewakili BEM UGM meminta agar program MBG dihentikan karena dinilai tidak memenuhi urgensi masyarakat Indonesia.
BEM UGM juga mengirimkan surat terbuka kepada UNICEF supaya program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu segera dihentikan.
Setelah sikap kritis itu, Tiyo mengungkapkan pihaknya mendapatkan teror tak biasa sejak tanggal 9 Februari 2026.
"Saya sejak tanggal 9 itu mulai menerima teror yang tidak biasa, sebelumnya ketika isu UU TNI, isu Agustus, saya juga menerima teror tapi enggak ada yang sampai ancaman penculikan," ungkap Tiyo, dikutip dari tayangan YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Selasa (24/2/2026).
Selain itu, Tiyo juga mengatakan bahwa nomor yang menghubunginya adalah nomor asing. Dirinya pun mempertanyakan siapa sosok di balik nomor asing tersebut.
Ia kemudian menjelaskan, bahwa selain dirinya, orang tau dan lebih dari 40 anggota BEM UGM juga mendapatkan teror serupa dari nomor yang berbeda-beda.
"Baru beberapa hari lalu, tanggal 14 Februari orang tua kami itu juga mendapatkan teror. Terornya mengatakan bahwa anaknya ini problematik, bermasalah, dan seterusnya. Tidak hanya berhenti di orang tua, bahkan lebih dari 40 pengurus BEM UGM itu mendapatkan teror," katanya menambahkan.
Mahasiswa Fakultas Filsafat ini mengungkapkan, bahwa pengurus BEM UGM berjumlah lebih dari 600 orang, jika termasuk relawan kegiatan bisa mencapai 1.000. Namun, entah bagaimana ceritanya hanya 40 orang itu yang mendapatkan teror.
Ia pun menegaskan bahwa ancaman serta teror yang didapatkan anggota BEM UGM adalah hal yang tidak boleh dinormalisasi.
Sebab, orang-orang yang mengkritik pemerintah adalah pihak yang sebenarnya peduli dengan bangsanya. Menurutnya adalah hal yang wajar jika rakyat meminta sesuatu dari pemerintahannya.
Pemuda asal Kudus ini mengibaratkan bahwa pemerintahan seperti buruh outsourcing yang dipilih setiap lima tahun sekali oleh rakyat. Maka, ketika rakyatnya bersuara menegur pemerintahnya, maka seharusnya hal itu didengar.
"Sehingga yang namanya bos negur buruh itu ya boleh dengan cara apa pun. Tapi kok bos yang negur buruh, malah buruhnya itu, kita enggak nyebut bahwa yang neror itu adalah buruh ya bang, tapi kok yang dialami oleh bosnya itu malah adalah teror," tuturnya.