Diteror Nomor Luar Negeri Gara-Gara Kritik MBG, Ketua BEM UGM: Kalau Dituduh Antek Asing, Kok yang Kirim Nomor Asing?
Jakarta, tvOnenews.com - Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto menyinggung soal teror yang diterimanya setelah mengkritik soal program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Setelah BEM UGM mengirimkan surat terbuka ke UNICEF minta program MBG dihentikan, Tiyo mengungkapkan dirinya mendapatkan teror dari nomor tak dikenal.
Teror itu berisi ancaman penculikan. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah nomor pengirim teror bukan nomor asal Indonesia.
"Baru kali ini saya terima teror dengan bentuk ancaman penculikan dengan nomor tidak dikenal, yang itu nomor asing," kata Tiyo, dalam tayangan YouTube Abraham Samad SPEAK UP, dikutip Selasa (24/2/2026).
Mahasiswa Fakultas Filsafat itu pun mempertanyakan siapa sebenarnya di balik nomor yang mengirimkan teror kepadanya.
"Kalau saya dituduh antek asing karena mengkritisi pemerintah, lho kok yang nyerang saya ketika diancam diculik malah nomor asing? Berarti yang antek asing adalah saya, atau orang yang nyuruh (teror) karena tersinggung ini?," katanya menambahkan.
Adapun BEM UGM mengirimkan surat terbuka untuk UNICEF pada 6 Februari 2026. Tiyo kemudian mendapatkan teror ancaman penculikan pada 9 Februari 2026.
Tak berhenti di situ, teror terus berlanjut hingga ke orang tua Tiyo pada 14 Februari 2026. Teror itu menuding bahwa sang Ketua BEM UGM adalah anak yang bermasalah di kampus.
Ia juga mengungkapkan teror berlanjut kepada lebih dari 40 anggota BEM UGM. Meski nomor pengirim berbeda-beda, namun teror itu serupa dengan yang diterima dirinya.
Terkait teror ini, BEM UGM menanggapinya dengan serius. Sebab, ancaman yang muncul dinilai sebagai tanda bahaya dari proses demokrasi di Indonesia.
"Itu bagi saya tanda yang bahaya, dan saya ingin sampaikan bahwa kita sudah melakukan komunikasi intens dengan LPSK dengan kampus untuk menindak ini secara serius," ujar dia menambahkan.
Diberitakan sebelumnya, BEM UGM mengirimkan surat terbuka untuk UNICEF dan diunggah di akun Instagram resminya.
Di dalam surat terbuka tersebut, organisasi mahasiswa itu menyoroti soal tragedi bunuh diri anak SD di Ngada, NTT beberapa waktu lalu.
Siswa SD itu diduga nekat bunuh diri karena masalah ekonomi. Keluarganya sangat miskin hingga tak mampu beli peralatan sekolah.
Load more