- Tangkapan layar YouTube Balige Academy
Pesan Rismon Sianipar untuk Roy Suryo dan Dokter Tifa: Masih Ada Pintu Maaf Terbuka dari Pak Jokowi
Jakarta, tvOnenews.com - Peneliti Rismon Sianipar menyampaikan pesan penting kepada Roy Suryo dan Dokter Tifa setelah dirinya secara terbuka menyampaikan permintaan maaf kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Pesan tersebut muncul setelah Rismon bertemu langsung dengan Jokowi di Solo, Jawa Tengah.
Dalam pernyataannya, Rismon menjelaskan bahwa Jokowi masih membuka ruang bagi pihak-pihak lain yang sebelumnya mempertanyakan keaslian ijazah Presiden ke-7 tersebut. Ia menyebut, sikap terbuka itu menjadi pesan yang patut diperhatikan oleh Roy Suryo maupun Dokter Tifa.
“Pak Jokowi masih memberikan pintu terbuka untuk kalian. Statement itu bukan jawaban atas pertanyaan saya, tapi statement terbuka untuk kalian,” kata Rismon setelah bertemu Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Jumat (13/3/2026).
Menurut Rismon, pernyataan tersebut disampaikan Jokowi tanpa diminta secara khusus. Ia menegaskan bahwa pesan tersebut merupakan sikap terbuka Jokowi terhadap pihak lain yang sebelumnya ikut mempertanyakan ijazahnya.
Rismon Sianipar Minta Maaf kepada Jokowi dan Keluarga
Sebelumnya, Rismon Sianipar telah menyampaikan permintaan maaf kepada Jokowi dan keluarganya terkait penelitian yang ia tuangkan dalam buku Jokowi’s White Paper. Permintaan maaf tersebut disampaikan setelah dirinya melakukan kajian ulang terhadap sejumlah temuan yang sempat dipublikasikan.
Rismon menyebut, sebagai seorang peneliti ia merasa perlu menyampaikan klarifikasi secara terbuka setelah menemukan fakta baru yang berbeda dari kesimpulan sebelumnya.
“Ya tentu saya minta maaf. Saya juga meminta maaf kepada publik, apalagi kepada pihak terkait seperti Bapak Jokowi,” ujar Rismon di Solo, Kamis (12/3/2026).
Ia menambahkan, sikap meminta maaf merupakan bentuk tanggung jawab moral seorang peneliti ketika menemukan kesalahan dalam proses analisis yang telah dipublikasikan kepada publik.
Menurutnya, seorang peneliti harus siap menerima kritik maupun tekanan selama proses penelitian berlangsung. Namun di sisi lain, peneliti juga wajib menyampaikan koreksi apabila terdapat kekeliruan dalam hasil riset.
Temuan Baru Penelitian Ijazah Jokowi
Permintaan maaf Rismon muncul setelah ia melakukan kajian ulang terhadap ijazah analog milik Jokowi yang ditunjukkan dalam gelar perkara khusus. Dalam penelitian terbaru tersebut, ia menemukan sejumlah elemen yang sebelumnya tidak menjadi fokus analisisnya.
Beberapa elemen yang kemudian menjadi perhatian Rismon dalam penelitian ulang antara lain:
-
Embos pada dokumen ijazah
-
Watermark sebagai tanda pengaman dokumen
-
Tidak adanya hologram pada ijazah pada periode tersebut
Rismon menjelaskan, setelah membandingkan dengan beberapa dokumen ijazah lain dari tahun yang sama di Universitas Gadjah Mada (UGM), ia menemukan bahwa pada masa itu hologram memang belum digunakan sebagai sistem pengaman dokumen akademik.
“Sejak gelar perkara ditunjukkan ijazah analog dari Bapak Joko Widodo, saya kaji lagi. Ternyata ada embos dan watermark,” kata Rismon.
Ia menambahkan, penggunaan watermark dan embos memang merupakan sistem pengaman dokumen yang umum digunakan pada periode tersebut.
“Mungkin setelah saya kaji dengan beberapa objek ijazah lainnya di tahun yang sama dari UGM, memang pada saat itu hologram tidak dipakai sebagai pengunci atau pengaman dalam sebuah ijazah,” jelasnya.
Klarifikasi atas Isi Buku Jokowi’s White Paper
Rismon juga mengakui bahwa temuan terbaru tersebut membuat sebagian kesimpulan dalam buku Jokowi’s White Paper perlu dikoreksi. Ia menyebut, terdapat kekeliruan dalam analisis awal yang ia lakukan sebelumnya.
Karena itu, ia memilih untuk menyampaikan klarifikasi secara terbuka sebagai bentuk tanggung jawab akademik.
“Saya sebagai peneliti menyatakan minta maaf secara gentleman kepada keluarga Bapak Jokowi terkait temuan-temuan saya yang baru,” ujar Rismon.
Ia menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari integritas ilmiah yang harus dijaga oleh seorang peneliti.
Menurut Rismon, penelitian harus bersifat independen dan siap diuji oleh berbagai pihak. Namun ketika ditemukan kekeliruan, peneliti juga harus berani menyampaikan koreksi secara transparan kepada publik.
Pesan Terbuka untuk Roy Suryo dan Dokter Tifa
Selain menyampaikan permintaan maaf kepada Jokowi, Rismon juga menyinggung Roy Suryo dan Dokter Tifa yang sebelumnya turut mempertanyakan keaslian ijazah Presiden ke-7 RI tersebut.
Ia mengatakan bahwa pesan Jokowi yang menyebut masih adanya “pintu terbuka” seharusnya dipahami sebagai kesempatan untuk menyelesaikan polemik secara baik.
Rismon tidak secara langsung meminta Roy Suryo maupun Dokter Tifa melakukan hal yang sama seperti dirinya. Namun ia menilai pesan tersebut dapat menjadi refleksi bagi semua pihak yang terlibat dalam polemik ijazah Jokowi.
Menurutnya, polemik yang terjadi selama ini sebaiknya diselesaikan melalui pendekatan ilmiah dan komunikasi terbuka.
Dengan adanya klarifikasi dan temuan baru yang ia sampaikan, Rismon berharap polemik mengenai ijazah Jokowi dapat disikapi secara lebih objektif.
Peneliti Harus Siap Dikritik
Rismon menegaskan bahwa sebagai peneliti ia siap menerima kritik, bahkan hujatan, selama proses penelitian berlangsung. Namun ia menilai kritik tersebut harus tetap berada dalam koridor ilmiah.
“Itulah pertanggungjawaban seorang peneliti yang harus independen, siap dicerca, dihina dengan narasi-narasi sesuka mereka,” ujarnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa setiap pernyataan yang disampaikan kepada publik harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Dengan permintaan maaf dan klarifikasi yang disampaikan, Rismon berharap polemik yang berkembang di masyarakat dapat mereda dan tidak lagi memunculkan kesalahpahaman baru. (nsp)