- Antara Foto
Bursa Asia Ambruk Lebih dari 5 Persen, Ancaman Trump ke Iran Picu Kepanikan Pasar Global
Jakarta, tvOnenews.com - Pasar saham Asia-Pasifik mengalami tekanan hebat pada perdagangan Senin (23/3/2026). Sejumlah indeks utama di kawasan ini anjlok tajam, dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kini telah memasuki pekan keempat.
Aksi jual besar-besaran terjadi karena investor mulai menjauhi aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman. Kekhawatiran utama datang dari ancaman konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mengganggu stabilitas energi global.
Ultimatum Trump Picu Ketidakpastian Global
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memicu ketegangan baru setelah mengeluarkan pernyataan keras pada Sabtu lalu. Ia mengancam akan menghancurkan fasilitas pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi energi dunia. Gangguan pada jalur ini berpotensi menghambat pasokan minyak global dan memicu lonjakan harga energi.
Ancaman tersebut langsung direspons keras oleh Iran. Pemerintah Teheran memperingatkan akan melakukan serangan balasan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk jika ultimatum tersebut direalisasikan.
Iran Siap Balas Serangan dan Sasar Infrastruktur Energi
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa setiap serangan terhadap fasilitas vital Iran akan dibalas secara cepat dan terukur. Ia bahkan menyebut infrastruktur energi dan minyak di kawasan sebagai target sah.
Pernyataan tersebut mempertegas potensi eskalasi konflik yang lebih luas. Tidak hanya itu, Iran juga memperluas ancaman dengan menyinggung pihak-pihak yang terlibat dalam pembiayaan militer Amerika Serikat.
Langkah ini meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap dampak lanjutan, termasuk gangguan distribusi energi global dan risiko krisis ekonomi yang lebih dalam.
Harga Minyak Stabil, Tapi Risiko Lonjakan Masih Tinggi
Di tengah meningkatnya ketegangan, harga minyak mentah dunia relatif stabil pada awal perdagangan. Namun, pergerakannya tetap berada pada level tinggi.
Berikut rincian harga minyak terbaru:
-
Brent: US$ 111,97 per barel (turun 0,25%)
-
West Texas Intermediate (WTI): US$ 97,64 per barel (turun 0,6%)
Menariknya, selisih harga antara Brent dan WTI kini melebar hingga lebih dari US$ 14 per barel. Ini menjadi salah satu kesenjangan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi tersebut dinilai mencerminkan tekanan besar di pasar energi global. Selisih yang melebar juga mengindikasikan bahwa pasar mulai memperhitungkan kemungkinan konflik berkepanjangan.
Bursa Asia Terjun Bebas, Korea Sempat Hentikan Perdagangan
Dampak dari ketegangan geopolitik langsung terlihat pada kinerja bursa saham Asia. Sejumlah indeks utama mencatat penurunan signifikan.
Berikut pergerakan indeks utama Asia:
-
Nikkei 225 Jepang: turun hampir 5%
-
Topix Jepang: turun 4,4%
-
Kospi Korea Selatan: anjlok lebih dari 6%
-
Kosdaq Korea Selatan: turun hampir 5%
-
S&P/ASX 200 Australia: turun 2,4%
-
Hang Seng Hong Kong: turun hampir 2%
-
CSI 300 Tiongkok: turun hampir 2%
Kondisi paling mencolok terjadi di Korea Selatan. Bursa bahkan sempat menghentikan perdagangan sementara setelah indeks berjangka Kospi 200 jatuh lebih dari 5%, sebagai langkah untuk meredam kepanikan pasar.
Pasar AS Cenderung Stabil, Investor Tunggu Perkembangan
Berbeda dengan Asia, pasar saham Amerika Serikat cenderung bergerak datar. Hal ini menunjukkan investor global masih menunggu perkembangan lanjutan dari konflik.
Pergerakan indeks berjangka AS:
-
Dow Jones Industrial Average: stabil
-
S&P 500: turun 0,1%
-
Nasdaq Composite: turun 0,2%
Meski relatif tenang, pasar AS tetap berada dalam bayang-bayang ketidakpastian. Setiap perkembangan dari Timur Tengah berpotensi langsung memengaruhi sentimen global.
Investor Waspada, Risiko Krisis Energi Membayangi
Para analis menilai kondisi saat ini sebagai fase krusial dalam dinamika pasar global. Kesenjangan harga minyak dan tekanan di pasar saham menunjukkan bahwa investor mulai mengantisipasi skenario terburuk.
Jika konflik terus meningkat dan Selat Hormuz benar-benar terganggu, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor, mulai dari energi hingga perdagangan global.
Situasi ini membuat investor semakin berhati-hati, sekaligus meningkatkan volatilitas pasar dalam jangka pendek. (nsp)