news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi IHSG..
Sumber :
  • Antara

IHSG Melemah Ikuti Bursa Global Seiring Ketidakpastian Arah AS-Iran

IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat pagi bergerak turun mengikuti pelemahan bursa saham global seiring ketidakpastian arah konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
Jumat, 27 Maret 2026 - 10:07 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat pagi bergerak turun mengikuti pelemahan bursa saham global seiring ketidakpastian arah konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

IHSG dibuka melemah 27,72 poin atau 0,39 persen ke posisi 7.316,37. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 4,84 poin atau 0,66 persen ke posisi 726,89.

“Diperkirakan IHSG bergerak sideways pada kisaran level 7.050- 7.250,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, mengutip Antara pada Jumat.

Dari mancanegara, Presiden AS Donald Trump mengatakan AS tidak yakin apakah mampu atau bersedia membuat kesepakatan damai dengan Iran. Dalam rapat kabinet, Trump mengatakan Iran memohon untuk membuat kesepakatan.

Kemudian, Trump memosting di media sosial, bahwa sesuai permintaan pemerintah Iran, dirinya memperpanjang penangguhan serangan AS terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari.

Selain itu, Trump juga menyatakan bahwa pembicaraan tengah berlangsung, meskipun Iran sudah sering membantah adanya negosiasi tersebut.

Pasar saham global terus menunjukkan pola perdagangan yang naik-turun, karena investor membuat keputusan perdagangan berdasarkan berita yang kontras tentang konflik tersebut.

Meskipun pelaku pasar sebagian besar berharap terhadap berakhirnya konflik, namun demikian, pesan yang beragam telah membebani sentimen.

“Hal ini karena pesan yang beragam tersebut mempengaruhi pergerakan harga minyak mentah, yang terkait erat dengan ekspektasi akan biaya energi yang dapat menimbulkan kenaikan inflasi,” ujar Ratna.

Harga minyak mentah global kembali menguat setelah Iran mengisyaratkan tidak berniat mengadakan pembicaraan langsung dengan AS, meskipun proposal AS sedang ditinjau oleh para pejabat Iran.

Seiring dengan itu, OECD memperingatkan percepatan kenaikan harga dan perlambatan pertumbuhan ekonomi, apabila harga energi meningkat lebih jauh akibat konflik yang berkepanjangan.

Di sisi lain, beberapa kapal dari China, India, Jepang, Turki dan Thailand telah diizinkan melewati Selat Hormuz oleh Iran.

Dari dalam negeri, Menteri Keuangan menambah penempatan dana pemerintah senilai Rp100 triliun ke perbankan untuk menjaga likuiditas di tengah kenaikan yield obligasi pemerintah Indonesia.

Seiring tambahan itu, total dana pemerintah yang ditempatkan di perbankan mencapai sekitar Rp300 triliun. Namun, penempatan dana itu dengan skema yang lebih fleksibel dan bisa ditarik kembali kapan saja.

Di sisi lain, pemerintah berencana menerapkan WFH untuk ASN dan masih berupa imbauan bagi swasta. Upaya itu dilakukan untuk menghemat konsumsi BBM.

Pemerintah akan segera mengumumkan rincian pelaksanaannya kebijakan WFH tersebut. 

Pada perdagangan Kamis (26/3), bursa saham Eropa kompak melemah, di antaranya Euro Stoxx 50 melemah 1,53 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 1,33 persen, indeks DAX Jerman melemah 1,50 persen, serta indeks CAC Prancis melemah 0,98 persen.

Bursa AS Wall Street juga kompak melemah pada perdagangan Kamis (26/3), di antaranya Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 1,01 persen ditutup di level 45.960,11, indeks S&P 500 melemah 1,74 persen ke level 6.477,16, serta indeks Nasdaq Composite melemah 2,38 persen ditutup di 23.587,00.

Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 469,15 poin atau 0,88 persen ke 53.134,50, indeks Shanghai melemah 2,73 poin atau 0,07 persen ke 3.886,35, indeks Hang Seng melemah 43,93 poin atau 0,18 persen ke 24.812,50, sementara indeks Strait Times menguat 9,32 poin atau 0,19 persen ke 4.897,08.(ant/ree)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

00:43
01:51
03:52
00:58
02:11
02:23

Viral