- Pexels/Andrea Piacquadio
Kembali ke Rutinitas, Perhatikan Kembali Asupan untuk Jaga Ginjal
Sementara itu, layanan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) menunjukkan tren peningkatan yang lebih gradual. Jumlah peserta CAPD meningkat dari 2.694 jiwa pada tahun 2020 menjadi 3.247 jiwa pada tahun 2025, dengan jumlah kasus yang naik dari 26.808 menjadi 29.678. Biaya verifikasi CAPD juga meningkat dari Rp179 miliar menjadi Rp210 miliar. Meskipun porsinya masih relatif kecil dibandingkan HD, CAPD menunjukkan potensi sebagai alternatif terapi yang terus berkembang.
Di sisi lain, layanan transplantasi ginjal masih relatif terbatas dengan jumlah tindakan yang stabil pada kisaran belasan kasus per tahun. Biaya verifikasi berada pada rentang Rp3,5 miliar hingga Rp6,3 miliar per tahun.
Data ini menunjukkan bahwa kebutuhan layanan terapi pengganti ginjal terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan hemodialisis sebagai layanan yang paling banyak dimanfaatkan. Hal ini sekaligus menegaskan pentingnya penguatan upaya promotif dan preventif untuk menekan laju progresivitas penyakit ginjal kronis agar tidak sampai pada tahap yang membutuhkan terapi lanjutan.
Lebih lanjut, dr. Jonny menekankan bahwa peningkatan kasus yang terjadi umumnya bukan berasal dari kasus baru, melainkan akibat perburukan kondisi pasien yang sebelumnya sudah memiliki riwayat penyakit ginjal. Hal ini menunjukkan pentingnya upaya pencegahan sejak dini.
“Peran promotif dan preventif sangat krusial, dan paling efektif dilakukan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional. Pencegahan penyakit ginjal bisa dimulai sejak dini melalui edukasi gaya hidup sehat, pemeriksaan rutin tekanan darah dan gula darah, serta deteksi awal gangguan fungsi ginjal dengan pemeriksaan sederhana seperti tes urine,” ujar dr. Jonny.
Ia menambahkan, dengan pemantauan yang konsisten dan intervensi sejak awal, fasilitas kesehatan tingkat pertama dapat mencegah progresivitas penyakit ginjal kronis ke tahap lanjut.
“Hal ini tentu akan meningkatkan kualitas hidup pasien sekaligus mengurangi kebutuhan perawatan di rumah sakit,” tutupnya.