news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Konflik Geopolitik Buka Peluang Indonesia di Industri EV.
Sumber :
  • istimewa - antaranews

Konflik Geopolitik Buka Peluang Indonesia di Industri EV

Konflik geopolitik global saat ini sedang memanas, khususnya perang antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, hal itu berpotensi mendorong lonjakan harga minyak
Senin, 30 Maret 2026 - 04:30 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Konflik geopolitik global saat ini sedang memanas, khususnya perang antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, hal itu berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dan gas dunia.

Bahkan, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk naik kelas menjadi pemain utama industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah telah mengganggu pasokan energi dunia, termasuk minyak dan liquefied natural gas (LNG), yang selama ini menjadi tulang punggung energi global. 

Gangguan distribusi melalui Selat Hormuz jalur vital bagi sekitar 20% pasokan energi dunia telah mendorong harga energi melonjak signifikan dan meningkatkan risiko krisis energi di berbagai negara.

Dalam situasi tersebut, Indonesia justru berada pada posisi strategis karena memiliki cadangan mineral kritis yang menjadi fondasi industri kendaraan listrik, seperti nikel, tembaga, bauksit, dan timah.

Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan dinamika geopolitik global membuka peluang bagi Indonesia untuk memainkan peran penting dalam rantai pasok kendaraan listrik dunia.

“Di tengah meningkatnya tensi geopolitik dan persaingan global atas mineral kritis, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis karena cadangan nikelnya, tembaga, bauksit, dan timah menjadi fondasi utama industri kendaraan listrik dunia,” jelas Fabby.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per Desember 2024, Indonesia memiliki sumber daya nikel sebesar 6,74 miliar ton dengan cadangan 3,13 miliar ton. 

Sementara itu, sumber daya tembaga mencapai 18,336 miliar ton dengan cadangan 2,86 miliar ton.

Adapun sumber daya bauksit tercatat sebesar 7,79 miliar ton bijih mentah, 3,93 miliar ton bauksit tercuci, serta 1,32 miliar ton alumina. Sementara sumber daya bijih timah mencapai 8,27 miliar meter kubik dengan cadangan 6,43 miliar meter kubik.

Fabby menilai, di tengah fragmentasi rantai pasok global dan meningkatnya kebutuhan mineral kritis, Indonesia berpeluang besar untuk tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga pemain utama dalam industri EV terintegrasi.

Momentum ini membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya berhenti pada produk antara seperti nickel pig iron atau prekursor, tetapi juga masuk ke produksi sel baterai hingga manufaktur kendaraan listrik secara terintegrasi.

“Penguatan industri EV merupakan momentum emas bagi Indonesia untuk melompat ke rantai nilai global (global value chain) yang lebih tinggi,” tambahnya.

Lebih jauh, pengembangan ekosistem kendaraan listrik juga menjadi strategi penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Lonjakan harga minyak akibat konflik global menunjukkan tingginya kerentanan negara terhadap energi fosil impor. Dalam konteks ini, elektrifikasi transportasi dinilai dapat menjadi solusi jangka panjang.

Fabby menyebutkan, transisi satu juta kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik berpotensi mengurangi kebutuhan minyak mentah Indonesia hingga 13,2 juta barel per tahun.

“Elektrifikasi transportasi menjadi strategi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi sekaligus menekan beban subsidi energi,” ujarnya.

Dengan kombinasi kekuatan sumber daya mineral, dorongan hilirisasi industri, serta momentum geopolitik global, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk bertransformasi dari eksportir bahan mentah menjadi pusat industri kendaraan listrik dunia. (aag)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

00:52
05:26
04:52
09:49
01:22
08:38

Viral