- istimewa
Pengamat Sebut Prabowo-Gibran Beban Bangsa, Mahasiswa UNUSIA Jakarta Tantang Debat Terbuka
Jakarta, tvOnenews.com - Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta soroti pernyataan pengamat politik Ubedillah Badrun terkait kritiknya terhadap Pemerintahan Prabowo-Gibran.
Pernyataan Ubedilah Badrun yang menyebut kepemimpinan nasional sebagai “beban bagi bangsa” dinilai tendensius, dan berpotensi mengandung ujaran kebencian.
"Narasi ini dapat mencederai integritas akademik yang seharusnya menjunjung tinggi objektivitas dan kedalaman analisis," kata Mohamad Rifqi Algifari, mahasiswa UNUSIA Jakarta, pada Minggu (12/4/2026).
Ia menilai bahwa pernyataan tersebut lebih menyerupai opini emosional daripada refleksi akademik yang berbasis riset dan argumentasi ilmiah.
"Akademisi semestinya hadir sebagai penjernih keadaan dengan menawarkan solusi konkret dan berbasis data, bukan justru membangun narasi provokatif yang tendensius dan berpotensi memecah ruang publik," ungkapnya.
Menurut Rifqi, kritik tanpa konstruksi solusi adalah bentuk kemalasan intelektual.
"Untuk itu, saya secara terbuka menantang Ubedilah Badrun untuk melakukan debat akademik terbuka," tegasnya.
Forum tersebut, kata Rifqi penting untuk menguji validitas argumen, mengedepankan rasionalitas, serta membedakan antara kritik ilmiah dan opini yang bersifat agitasi.
"Jika pernyataan tersebut memang lahir dari kedalaman akademik, maka seharusnya tidak ada keraguan untuk diuji secara terbuka dalam forum ilmiah. Namun jika tidak, publik berhak menilai bahwa pernyataan tersebut hanyalah ekspresi tendensius yang jauh dari standar keilmuan. Akademisi bukan penghakim, melainkan arsitek solusi bagi bangsa," pungkasnya.
Pernyataan Ubedillah Badrun
- YouTube Forum Keadilan TV
Sebelumnya, pengamat politik sekaligus aktvis, Ubedillah Badrun menyebut jika Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka adalah beban bangsa Indonesia.
Hal itu diungkap Ubedillah dalam podcast di kanal YouTube Forum Keadilan TV yang diunggah pada Selasa (7/4/2026) lalu.
Awalnya, Ubedillah menyinggung soal acara Halal Bihalal para pengamat, dimana dirinya merupakan inisiator dari pertemuan para pengamat tersebut.
Ia mengatakan dalam halal bihalal tersebut, para pengamat membicarakan isu publik secara rasional, saintifik, dan argumentatif.
Salah satu yang disorot dalam pertemuan tersebut, terkait sikap pemerintah dalam menghadapi gejolak global saat ini.
"Sehingga kemudian memunculkan pikiran-pikiran yang kritis. Misalnya bahwa pemerintah sebetulnya sudah pada situasi dimana pemerintah ini sudah tidak layak memimpin pemerintahan," katanya dikutip pada Minggu (12/4/2026).
"Kalau pada akhirnya kemudian Prabowo-Gibran tidak mampu mengatasi situasi sekarang, ya wajar dong, kalau kemudian para pengamat mengatakan bahwa ini sudah tidak layak menjadi pemimpin republik ini. Tidak lagi layak menjalankan pemerintahan," lanjutnya.
Ia mengatakan pemikiran tersebut sangat bisa diperdebatkan secara intelektual, secara rasional, bahkan secara konstitusional.
"Jadi narasi yang keluar dari sejumlah pengamat di forum itu, kami tidak menyalahkan itu, dan itu tanggung jawab sebagai seorang intelektual, salah satunya to speak the truth. Bagaimana kami mampu mengungkapkan (kebenaran) benar dalam pikiran kita," tuturnya.
Ubedillah menilai bahwa sejak awal pemerintahan Prabowo-Gibran sudah memiliki cacat bawaan sehingga hal itu membuat jalannya pemerintahan menjadi semakin sulit.
"(Gibran) cacat anak haram konstitusi, Prabowo punya beban masa lalu yang cukup berat. Itu menjadi jalanan pemerintahan menjadi sangat sulit," katanya.
"Jadi kalau Prabowo mengatakan bahwa para pengamat tidak suka pemilihan Prabowo-Gibran berhasil, bukan itu faktornya. Faktornya memang sejak awal rezim ini sudah punya cacat bawaan. Itu menjadi berat. Kalau sejak awal tidak ada cacat bawaan mungkin akan lain ceritanya," tambahnya.
Cacat bawaan inilah yang kemudian kata Ubedillah, menjadikan Prabowo-Gibran sebagai beban bagi negara Indonesia.
"Secara argumentatif, saya meyakini bahwa Prabowo dan Gibran adalah beban buat bangsa ini," katanya.
"Sejarah kelam buat bangsa ini. Juga sejarah berat, beban berat Ketika pemerintahan ini dipimpin oleh Joko Widodo. Jadi ini adalah dua periode, dua episode kekuasaan yang membuat bangsa ini menatap ke depan dengan tertatih-tatih," tambahnya. (muu)