- BPMI Setpres
Terburuk Sepanjang Sejarah, Rupiah Tembus Rp17.300 per Dolar AS, Airlangga: Akibat Gejolak Global
Menurutnya, fluktuasi kurs tidak bisa direspons secara tergesa-gesa dari hari ke hari, karena pengelolaan stabilitas moneter membutuhkan pendekatan terukur.
“Kita monitor saja, karena ini kan gak bisa kita setiap hari reaktif. Kita monitor saja, dan itu BI (Bank Indonesia) tugasnya menjaga,” ujarnya.
Airlangga menambahkan peran Bank Indonesia tetap menjadi kunci dalam menjaga kestabilan nilai tukar di tengah tekanan pasar keuangan global.
Sementara itu, analis Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange, Muhammad Amru Syifa, menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi memanasnya tensi geopolitik, terutama konflik antara United States dan Iran.
Menurutnya, situasi tersebut mendorong kenaikan harga energi sekaligus meningkatkan minat investor terhadap dolar AS sebagai aset aman atau safe haven.
“Konflik di Timur Tengah khususnya ketegangan antara AS dan Iran mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven,” ujarnya.
Dari faktor domestik, ia melihat keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan di 4,75 persen menunjukkan fokus otoritas moneter pada penguatan stabilitas kurs di tengah tekanan eksternal.
Selain menahan suku bunga, BI juga disebut mengambil langkah tambahan untuk meredam gejolak di pasar valuta asing melalui penyesuaian instrumen intervensi.
Salah satu kebijakan yang dilakukan yakni menaikkan batas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap dari 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi.
Kebijakan itu ditujukan untuk membantu mengurangi tekanan di pasar spot sekaligus mendukung stabilisasi nilai tukar.
Menurut Amru, arah pergerakan rupiah ke depan masih akan sangat ditentukan sejumlah faktor eksternal, termasuk perkembangan geopolitik global, arah kebijakan Federal Reserve, serta efektivitas bauran kebijakan dalam negeri.
“Ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, arah kebijakan Federal Reserve, serta efektivitas bauran kebijakan domestik dalam menjaga stabilitas pasar keuangan,” ujarnya.
Pemerintah dan otoritas moneter kini disebut terus memantau perkembangan pasar, seiring meningkatnya perhatian terhadap volatilitas rupiah di tengah tekanan global yang belum mereda. (ant/nba)