- tvone - sinto sofiadin
Soroti Fenomena Aksi Unjuk Rasa yang Berujung Anarkis, Ketua Gerakan Santri Madura Beri Peringatan
Jakarta, tvOnenews.com – Ketua Gerakan Santri Madura, Ach. Sayuthi, menyoroti fenomena aksi unjuk rasa yang kerap berujung anarkis.
Menurutnya, sebagai negara demokrasi, setiap warga memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, termasuk melalui aksi demonstrasi. Namun, ia menegaskan bahwa tindakan anarkis justru merugikan masyarakat luas.
- Istimewa
“Semua orang berhak menyampaikan aspirasi, tapi jangan sampai merusak fasilitas umum. Itu dibangun dari pajak rakyat, dari APBN dan APBD. Kalau dirusak, yang rugi ya rakyat sendiri,” kata Ach. Sayuthi.
Ia juga mengungkap adanya indikasi kuat bahwa sejumlah aksi seringkali ditunggangi oleh pihak tertentu. Menurutnya, mahasiswa dan aktivis sejatinya bergerak berdasarkan kajian dan idealisme, namun sering dimanfaatkan oleh oknum yang memiliki kepentingan lain.
“Banyak penyusup yang masuk. Yang dirugikan justru teman-teman mahasiswa sendiri, karena idealisme mereka jadi tercemar,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa mobilisasi massa oleh pihak tertentu sangat berpotensi memicu anarkisme, terutama jika melibatkan kelompok bayaran atau pihak yang sengaja memprovokasi.
“Kalau sudah ada iming-iming uang atau aksi bayaran, itu sangat rawan terjadi tindakan anarkis,” tambahnya.
Meski demikian, Ach. Sayuthi tetap menegaskan bahwa kritik terhadap kebijakan pemerintah adalah hal yang sah dalam demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar penyampaian aspirasi tidak dilakukan secara provokatif apalagi anarkis.
“Kritik itu penting, tapi jangan sampai dimobilisasi untuk kepentingan tertentu yang berujung kerusuhan,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran koordinator lapangan (korlap) dalam menjaga massa aksi agar tidak disusupi pihak luar.
“Korlap harus tahu betul siapa yang ikut aksi. Jangan sampai ada penyusup. Kalau itu dijaga, aksi akan tetap kondusif,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Ach. Sayuthi menyatakan bahwa pihaknya tidak akan ikut aksi demonstrasi dalam waktu dekat, karena ingin memastikan setiap langkah didasarkan pada kajian yang matang.
“Kami tidak ingin ikut-ikutan tanpa kajian. Harus jelas isu dan dampaknya,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, ia mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi, terutama di tengah maraknya hoaks yang berpotensi memicu konflik.