- Abdul Gani Siregar/tvOnenews.com
Pangkas MBG Hari Sabtu, Wamenkeu Ungkap Negara Hemat Rp1 Triliun Sehari
Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa program MBG tidak hanya efisien dari sisi anggaran, tetapi juga berkualitas dalam implementasinya.
Strategi Jaga Defisit APBN Tetap Aman
Kebijakan efisiensi MBG menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas fiskal, khususnya dalam mengendalikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut Juda, tekanan global seperti kenaikan harga minyak menjadi tantangan tersendiri bagi keuangan negara.
Di sisi lain, pemerintah memilih untuk menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi guna menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan ini berdampak pada meningkatnya beban subsidi negara.
Untuk menyeimbangkan kondisi tersebut, pemerintah melakukan pengendalian belanja sekaligus mengoptimalkan penerimaan negara.
Optimalisasi Penerimaan Negara
Selain efisiensi belanja, pemerintah juga mendorong peningkatan penerimaan melalui berbagai strategi. Salah satunya adalah optimalisasi sistem perpajakan berbasis digital atau coretax.
Pemerintah juga melihat potensi penerimaan dari sektor komoditas, terutama dari kenaikan harga batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) di pasar global.
Kombinasi antara pengendalian belanja dan peningkatan penerimaan ini diharapkan mampu menjaga kesehatan fiskal Indonesia di tengah dinamika ekonomi global.
Program Prioritas Tetap Berjalan
Meski dilakukan efisiensi, pemerintah menegaskan bahwa program prioritas seperti MBG tetap berjalan. Penyesuaian yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan, bukan mengurangi manfaat bagi masyarakat.
“Ini adalah penajaman. Program tetap berjalan, tetapi dengan pendekatan yang lebih tepat sasaran dan berkualitas,” tegas Juda.
Dengan kebijakan ini, pemerintah berharap anggaran negara dapat dimanfaatkan secara lebih efektif, sekaligus menjaga keseimbangan fiskal dalam jangka panjang. (ant/nsp)