news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

HIPMI Genjot Hilirisasi Sawit untuk Pangan Nasional, Dorong Pengusaha Masuk Industri Bernilai Tambah.
Sumber :
  • Istimewa

HIPMI Genjot Hilirisasi Sawit untuk Pangan Nasional, Dorong Pengusaha Masuk Industri Bernilai Tambah

HIPMI dorong hilirisasi sawit sektor pangan untuk perkuat ketahanan nasional dan tingkatkan nilai tambah industri kelapa sawit Indonesia.
Senin, 27 April 2026 - 16:57 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Industri kelapa sawit kembali menjadi sorotan dalam upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Di tengah tantangan global, dorongan hilirisasi terus digaungkan oleh kalangan pengusaha, termasuk Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).

Melalui berbagai inisiatif, HIPMI menilai hilirisasi sawit di sektor pangan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen utama komoditas ini.

Sawit sebagai Pilar Kekuatan Pangan Nasional

Ketua Bidang Pertanian sekaligus Ketua Satgas Pangan HIPMI, M Hadi Nainggolan, menegaskan bahwa kelapa sawit bukan sekadar komoditas ekspor, tetapi juga fondasi penting dalam sistem pangan nasional.

Dengan luas perkebunan yang hampir mencapai 17 juta hektare, sawit dinilai memiliki potensi besar dalam menopang kebutuhan pangan bagi sekitar 280 juta penduduk Indonesia.

Menurutnya, keunggulan utama kelapa sawit terletak pada produktivitas tinggi, harga yang kompetitif, serta pasokan yang stabil sepanjang tahun. Tidak seperti komoditas lain yang bergantung pada musim, sawit mampu menghasilkan produksi yang relatif konsisten.

“Kelapa sawit ini adalah tanaman unggulan Indonesia yang harus dioptimalkan sebaik mungkin, termasuk untuk sektor pangan,” ujar Hadi dalam keterangannya di Jakarta.

Hilirisasi Sawit Jadi Kunci Nilai Tambah

Dalam konteks industri, hilirisasi menjadi kata kunci. Selama ini, sebagian besar pelaku usaha masih berfokus pada produksi bahan mentah seperti Tandan Buah Segar (TBS) dan Crude Palm Oil (CPO).

Padahal, potensi terbesar justru terletak pada pengolahan lanjutan menjadi produk pangan bernilai tambah tinggi.

Hadi menyoroti bahwa banyak pengusaha sawit, termasuk anggota HIPMI, belum maksimal masuk ke sektor hilir. Kondisi ini dinilai sebagai peluang besar yang masih terbuka lebar.

“Selama ini pengusaha hanya berhenti di produksi bahan mentah. Kita perlu dorong agar masuk ke hilirisasi, sehingga menghasilkan produk jadi yang punya nilai ekonomi lebih tinggi,” tegasnya.

Ragam Produk Pangan Berbasis Sawit

Kelapa sawit memiliki spektrum penggunaan yang sangat luas di sektor pangan. Berbagai produk sehari-hari masyarakat Indonesia ternyata berasal dari turunan sawit.

Beberapa di antaranya meliputi:

  • Minyak goreng

  • Margarin

  • Mentega putih (shortening)

  • Roti dan biskuit

  • Cokelat

  • Minuman berbasis kopi

Keunggulan produk berbasis sawit terletak pada stabilitas, kualitas, serta kandungan nutrisi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

Dengan pengembangan hilirisasi, produk-produk ini tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga berpotensi besar untuk ekspor.

Dorongan Kolaborasi dengan BPDP

Untuk mempercepat hilirisasi, HIPMI mendorong kolaborasi dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Lembaga ini dinilai memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan industri sawit, termasuk di sektor pangan.

Program pangan dan hilirisasi yang dimiliki BPDP diharapkan bisa diperluas, khususnya melalui skema inkubasi bisnis skala industri.

Hadi mengusulkan agar program tersebut tidak hanya bersifat pendanaan, tetapi juga mencakup pendampingan bagi pengusaha yang ingin masuk ke industri hilir.

“Kami ingin ada program inkubasi industri pangan berbasis sawit yang lebih masif, sehingga pengusaha bisa langsung masuk ke sektor hilirisasi,” jelasnya.

Target: Satu Pengusaha per Provinsi

Sebagai langkah konkret, HIPMI menargetkan minimal satu pengusaha di setiap provinsi untuk terjun langsung ke sektor hilirisasi sawit.

Target ini dinilai realistis sekaligus strategis dalam membangun ekosistem industri pangan berbasis sawit secara nasional.

Dengan semakin banyak pelaku usaha yang masuk ke sektor hilir, dampak ekonomi yang dihasilkan juga akan semakin besar, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga peningkatan nilai ekspor.

“Harus ada pengusaha yang mampu mengolah sawit menjadi produk pangan seperti mentega bahkan keju. Ini peluang besar,” ujar Hadi.

Dampak Hilirisasi bagi Ekonomi dan Ketahanan Pangan

Hilirisasi sawit tidak hanya berdampak pada peningkatan nilai tambah, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap ketahanan pangan nasional.

Beberapa manfaat utama yang diharapkan antara lain:

  • Mengurangi ketergantungan impor bahan pangan

  • Meningkatkan daya saing industri nasional

  • Membuka lapangan kerja baru

  • Memperkuat stabilitas pasokan pangan

Dengan pendekatan ini, sawit tidak lagi dipandang semata sebagai komoditas ekspor, melainkan sebagai tulang punggung industri pangan nasional.

Momentum Transformasi Industri Sawit

Dorongan HIPMI terhadap hilirisasi sawit menjadi sinyal kuat bahwa transformasi industri ini tengah berlangsung. Dari yang sebelumnya berorientasi pada bahan mentah, kini mulai bergeser ke produk jadi bernilai tinggi.

Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan mendorong industrialisasi berbasis sumber daya alam.

Dengan sinergi antara pengusaha, pemerintah, dan lembaga pendukung seperti BPDP, hilirisasi sawit di sektor pangan diyakini dapat menjadi salah satu kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

07:28
04:36
01:10
02:37
07:46
03:48

Viral