- Antara
106 Ribu Anak Jabar Putus Sekolah, Dedi Mulyadi Langsung Bereaksi: Perintahkan Kepala Desa Jemput Bola Datangi Rumah Warga
Jakarta, tvOnenews.com - Provinsi Jawa Barat tengah menghadapi rapor merah di bidang pendidikan setelah data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) mengungkap angka putus sekolah di wilayah ini mencapai 106.196 anak, tertinggi di seluruh Indonesia.
Merespons kondisi darurat ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) langsung mengeluarkan instruksi tegas kepada jajarannya.
Pria yang akrab disapa KDM ini memerintahkan seluruh kepala desa, pengawas sekolah, hingga aparat dinas pendidikan untuk melakukan aksi "jemput bola".
Mereka diwajibkan mendatangi langsung rumah-rumah anak yang tidak lagi mengenyam pendidikan untuk diajak kembali ke sekolah.
"Kami akan mendata anak tidak sekolah, lalu mereka akan didatangi oleh aparat terkait, mulai dari kepala desa, dinas pendidikan, hingga pengawas sekolah, untuk didorong kembali bersekolah," ujar Dedi Mulyadi di Bandung, Selasa (28/4).
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa di kepemimpinannya, kemiskinan tidak boleh menjadi tembok penghalang bagi anak-anak untuk mendapatkan ilmu.
Ia memberikan jaminan penuh bahwa biaya pendidikan untuk masyarakat tidak mampu akan ditanggung oleh pemerintah daerah, baik di sekolah negeri maupun swasta.
"Masalah anak tidak sekolah, terutama di pendidikan dasar, menjadi perhatian utama kami. Solusinya adalah memastikan sekolah gratis bagi masyarakat tidak mampu, baik di sekolah negeri maupun swasta," tegasnya.
Bagi Dedi, sekadar urusan administrasi di balik meja tidak akan menyelesaikan masalah.
Dibutuhkan kehadiran fisik pemerintah di lapangan untuk memahami kesulitan nyata yang dialami setiap keluarga.
Selain intervensi langsung, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga mulai merancang sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai solusi bagi siswa yang memiliki kendala akses fisik menuju bangunan sekolah.
"Ke depan, akan dilakukan pemetaan dan pendataan untuk memastikan implementasi PJJ berjalan efektif," tambah Dedi.
Dengan kombinasi kebijakan sekolah gratis, pendataan aktif di tingkat desa, serta pemanfaatan teknologi digital, Dedi Mulyadi optimistis angka anak putus sekolah yang mencapai ratusan ribu tersebut dapat segera ditekan secara signifikan demi masa depan Jawa Barat yang lebih baik. (ant/dpi)