- tvOnenews/Julio Trisaputra
Prabowo di May Day 2026: Buruh Diminta Rasional, Jangan Benci Orang Kaya, Tapi Tegas Lawan yang Merampok
Jakarta, tvOnrnews.com — Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan tegas dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 yang digelar di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Jumat (1/5/2026).
Di hadapan ribuan buruh dari berbagai daerah, Prabowo menyoroti pentingnya sikap bijak dalam memandang kelompok pengusaha di tengah isu ketimpangan ekonomi yang masih menjadi perhatian publik.
Alih-alih mendorong sentimen anti-kelompok tertentu, Prabowo justru mengingatkan agar buruh tidak serta-merta memusuhi kalangan kaya. Ia menilai pendekatan emosional justru dapat memperkeruh situasi ekonomi nasional.
Ajakan Bersikap Dewasa di Tengah Isu Ketimpangan
Dalam pidatonya, Prabowo menekankan bahwa tidak semua pengusaha menjalankan praktik yang merugikan negara. Ia mengajak para pekerja untuk melihat realitas ekonomi secara lebih rasional dan tidak menggeneralisasi kelompok tertentu.
Menurutnya, banyak pengusaha yang berperan aktif dalam menjaga stabilitas ekonomi, terutama melalui penciptaan lapangan kerja dan keberlangsungan usaha di berbagai sektor.
“Tidak semua pengusaha serakah,” ujar Prabowo di hadapan massa buruh.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena disampaikan di tengah meningkatnya kritik terhadap ketimpangan ekonomi, termasuk disparitas pendapatan antara pekerja dan pemilik modal.
Peran Pengusaha Dinilai Krusial bagi Ekonomi
Prabowo menegaskan bahwa keberadaan pengusaha memiliki kontribusi besar terhadap roda perekonomian nasional. Ia menyebut sektor usaha sebagai salah satu pilar penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berjalan.
Banyak pelaku usaha, kata dia, tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, tetapi juga berperan dalam membuka peluang kerja bagi masyarakat luas.
“Banyak yang bekerja dengan baik, banyak kita butuh mereka supaya ekonomi hidup,” lanjutnya.
Pernyataan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa hubungan antara buruh dan pengusaha seharusnya bersifat saling mendukung, bukan saling berseberangan secara mutlak.
Tegas terhadap Praktik Curang dan Pelanggaran
Meski mengajak buruh untuk tidak membenci kalangan kaya secara umum, Prabowo tetap menegaskan pentingnya sikap tegas terhadap pelaku usaha yang melakukan pelanggaran.
Ia membuka ruang bagi buruh untuk bersikap keras terhadap pengusaha yang terbukti merugikan negara, termasuk praktik korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan ekonomi.
Dalam pernyataan yang cukup tajam, Prabowo menegaskan bahwa kekayaan yang diperoleh dengan cara tidak benar tidak dapat ditoleransi.
“Jangan kita benci sama orang kaya, tapi kalau kayanya ngerampok, itu berbeda,” tegasnya.
Pernyataan ini langsung mendapat respons dari peserta aksi, mengingat isu keadilan ekonomi dan praktik curang masih menjadi perhatian utama kalangan pekerja.
Pesan Keseimbangan: Kritik Tanpa Generalisasi
Pidato Prabowo dalam peringatan May Day 2026 mencerminkan upaya pemerintah untuk menyeimbangkan narasi antara perlindungan buruh dan keberlangsungan dunia usaha.
Di satu sisi, buruh didorong untuk tetap kritis terhadap ketidakadilan. Namun di sisi lain, mereka juga diminta untuk tidak terjebak dalam generalisasi yang dapat memicu konflik sosial maupun ekonomi.
Pendekatan ini dinilai penting di tengah dinamika global dan tekanan ekonomi yang menuntut stabilitas nasional tetap terjaga.
May Day 2026 Jadi Panggung Pesan Ekonomi Nasional
Peringatan Hari Buruh tahun ini tidak hanya menjadi ajang penyampaian aspirasi pekerja, tetapi juga momentum bagi pemerintah untuk menyampaikan arah kebijakan dan pandangan terhadap relasi industrial di Indonesia.
Pesan Prabowo menegaskan bahwa pembangunan ekonomi membutuhkan kolaborasi antara buruh dan pengusaha, dengan prinsip keadilan sebagai fondasi utama.
Di tengah tantangan ekonomi global dan domestik, pidato tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan tenaga kerja tanpa menciptakan polarisasi sosial. (agr/nsp)