- Antara
Mensos Ungkap Tantangan Sekolah Rakyat: Ada Siswa SMA Belum Bisa Membaca
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan, Program Sekolah Rakyat diprioritaskan untuk anak putus sekolah dan keluarga miskin ekstrem.
Program ini dilakukan melalui sistem penjangkauan langsung agar akses pendidikan berasrama lebih luas di berbagai daerah.
“Sekolah rakyat tidak membuka pendaftaran kita menjangkau, jadi, yang ada adalah penjangkauan-penjangkauan anak-anak yang diprioritaskan, yang tidak sekolah, belum sekolah putus sekolah maupun yang berpotensi putus sekolah,” ujar Saifullah, Minggu (3/5/2026).
Gus Ipul, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa Sekolah Rakyat memiliki perbedaan dengan sekolah umum.
Ia menjelaskan, sekolah ini menggunakan konsep asrama dan difokuskan untuk anak-anak keluarga miskin desil satu dan dua.
Kebanyakan siswa yang belajar di Sekolah Rakyat berusia di atas rata-rata karena mengalami putus sekolah.
“Banyak siswa-siswa rakyat itu yang dulunya adalah pengamen mengemis pemulung untuk sekolah mereka, tidak melanjutkan sekolah, kemudian ada bahkan yang tidak sekolah,” kata dia lagi.
Selama tiga bulan pertama program berjalan adalah masa-masa paling sulit. Sebab, setiap siswa memiliki kemampuan akademik yang beragam.
Bahkan, kata dia, ada siswa SMA yang belum bisa membaca sehingga guru harus mendampingi secara intensif.
Adapun para guru yang mengajar di Sekolah Rakyat dipilih melalui proses seleksi ketat. Hal ini dilakukan agar mereka mampu mendampingi siswa dengan berbagai kondisi. (ant/iwh)