news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Aktivitas Bongkar Muat Batubara.
Sumber :
  • istimewa

DME Batubara di Persimpangan, Pengamat Energi UI: Pengembangan DME Harus Diimbangi dengan CCUS

Pengembangan Dimethyl Ether (DME) berbasis batubara dinilai berada di titik persimpangan antara ambisi kemandirian energi dan komitmen penurunan emisi. Sejumlah
Selasa, 5 Mei 2026 - 16:31 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Pengembangan Dimethyl Ether (DME) berbasis batubara dinilai berada di titik persimpangan antara ambisi kemandirian energi dan komitmen penurunan emisi. Sejumlah pengamat menilai, tanpa intervensi teknologi tambahan, proyek ini justru berpotensi menambah beban emisi nasional.

DME yang dilakukan oleh pemerintah mengandalkan clean coal technology yang diklaim mampu menekan emisi hingga 30%-40% dibandingkan pembakaran batubara secara langsung. 

Klaim ini menjadi dasar bahwa hilirisasi batubara masih dapat berjalan beriringan dengan agenda transisi energi.

Meski demikian, Pengamat Energi UI, Iwa Garniwa menilai penggunaan teknologi tersebut belum cukup. 

"Pengembangan DME harus diimbangi dengan penerapan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) agar tetap selaras dengan target Net Zero Emission (NZE)," jelasnya.

Adapun CCUS merupakan teknologi untuk menangkap emisi karbon dioksida (CO2) dari aktivitas industri, yang kemudian dimanfaatkan kembali atau disimpan secara permanen di bawah tanah guna menekan emisi gas rumah kaca.

"Tanpa CCUS, emisi siklus hidup DME batubara 20% lebih tinggi dari LPG. Ini bertentangan dengan komitmen NDC. Namun, penerapan CCUS akan menaikkan capex 20% dan opex 15%," ujar Iwa.

Pandangan lebih kritis disampaikan Direktur Eksekutif Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN), Tata Mustasya. Ia menilai, bahkan dengan berbagai intervensi teknologi, DME tetap berpotensi menambah beban emisi.

“Emisi DME secara signifikan jauh lebih tinggi dari LPG. Jadi DME tidak akan mengurangi, tetapi justru menambah emisi CO2 dari batu bara—baik dari sisi produksi maupun penggunaan,” kata Tata.

Menurutnya, penggunaan DME juga tidak menggantikan konsumsi batubara di sektor pembangkit listrik, sehingga total emisi tetap bertambah dari dua sisi: produksi energi dan konsumsi rumah tangga.

Sementara itu, Pengamat Energi Migas Hadi Ismoyo melihat persoalan emisi DME tidak bisa hanya dinilai dari tahap pembakaran akhir. 

Ia menekankan pentingnya pendekatan well-to-wheel yang menghitung seluruh proses produksi hingga penggunaan.

"Secara pembakaran akhir, emisi DME terlihat setara dengan LPG dan BBM. Namun proses coal to syngas melepaskan emisi dalam jumlah besar, sehingga total emisinya tetap tinggi," jelas Hadi.

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:35
02:50
04:42
00:59
01:38
05:04

Viral