- Dok. Peta Hilirisasi
Pengamat Energi Dukung Pemerintah dalam Keberhasilan Hilirisasi
Jakarta, tvOnenews.com - Pengamat Energi sekaligus Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) Iwa Garniwa, mendukung pemerintah dalam keberhasilan hilirisasi.
Salah satunya dukungan terhadap proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai produk substitusi Liquefied Petroleum Gas (LPG) di Indonesia.
"DME sangat sensitif terhadap harga batu bara dan capex gasifikasi itu tinggi,’’ ujar Iwa dalam keterangannya, Kamis (7/6/2026).
Produksi DME disebut menghasilkan emisi 20% lebih tinggi dibandingkan LPG sehingga untuk memitigasi itu diperlukan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS).
"DME adalah solusi taktis jangka pendek-menengah untuk mengurangi impor secara cepat dengan memanfaatkan aset eksisting," terangnya.
Sebagaimana diketahui, Pemerintah Indonesia tengah mengakselerasi proyek DME dengan target kapasitas 1,4 juta ton per tahun.
Proyek ini diproyeksikan menyerap 7 juta ton batu bara kalori rendah (low rank coal) per tahun.
Langkah strategis ini diambil untuk menutup celah konsumsi LPG nasional yang telah mencapai 8,3 juta ton per tahun, di mana 75% di antaranya masih dipenuhi melalui impor.
Guna memastikan keberhasilan DME, pemerintah diminta untuk dapat mencontoh negara-negara yang telah lebih dulu mengutilisasi DME, diantaranya Tiongkok, India, dan Amerika Serikat (AS).
Di Tiongkok, dukungan pemerintah sangat masif dari hulu hingga hilir, mulai dari subsidi, kewajiban pencampuran (blending), hingga insentif harga bahan baku.
Saat ini, Tiongkok mampu memproduksi 7 juta ton DME per tahun yang digunakan sebagai 20% campuran LPG untuk rumah tangga dan industri.
Berkat intervensi tersebut, harga DME di Tiongkok bahkan sepertiga lebih murah (di bawah 2 yuan per meter kubik) dibandingkan LNG impor di negara tersebut senilai 2,87 yuan per meter kubik, belum termasuk biaya regasifikasi dan transportasi.
Di India, melansir laporan Economic Times, pencampuran 20% DME hasil gasifikasi batu bara dengan LPG diperkirakan dapat menekan impor LPG hingga 6,3 juta ton per tahun. Langkah ini juga berpotensi menghemat devisa hingga US$4,04 miliar per tahun.
Berbeda dengan kedua negara tersebut, Amerika Serikat (AS) fokus pada DME sebagai bahan bakar diesel alternatif untuk truk berat.