news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Petani Sawit Keluhkan Sulitnya Jual Kredit RSPO, SPKS Desak RSPO Tinjau Ulang Mekanisme Sertifikasi.
Sumber :
  • Istimewa

Petani Sawit Masih Hadapi Banyak Kendala, Akses Informasi hingga Pendampingan Jadi Sorotan

Petani sawit swadaya masih menghadapi berbagai kendala budidaya dan akses informasi. Hotline PERKASA hadir untuk dorong produktivitas sawit berkelanjutan.
Jumat, 8 Mei 2026 - 17:15 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Petani sawit swadaya di Indonesia hingga kini masih menghadapi berbagai tantangan yang memengaruhi produktivitas kebun dan kesejahteraan mereka. Di tengah meningkatnya kebutuhan industri sawit nasional, banyak petani masih kesulitan memperoleh akses informasi, pendampingan teknis, hingga edukasi budidaya yang memadai.

Kondisi tersebut membuat sebagian petani sawit belum mampu menerapkan praktik budidaya yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP) secara optimal. Akibatnya, kualitas dan produktivitas tandan buah segar (TBS) di sejumlah daerah masih tergolong rendah.

Salah satu persoalan yang paling sering dihadapi petani sawit swadaya yakni penggunaan benih tidak standar atau benih ilegal karena keterbatasan modal dan minimnya informasi. Situasi itu berdampak langsung terhadap hasil panen yang tidak maksimal.

Selain persoalan benih, banyak petani sawit juga masih menghadapi kendala dalam pemupukan, pengendalian hama, hingga praktik panen yang sesuai standar. Kurangnya pemahaman terkait dosis pupuk, waktu aplikasi, dan pengelolaan kebun membuat biaya produksi menjadi tidak efisien.

Tak hanya itu, persoalan legalitas lahan seperti Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) juga masih menjadi hambatan bagi petani sawit untuk mengakses program peremajaan sawit rakyat (PSR) maupun sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Di sisi lain, kebutuhan energi nasional yang terus meningkat membuat sektor sawit kini memiliki peran strategis dalam mendukung program biodiesel B50 yang tengah didorong pemerintah. Karena itu, peningkatan kapasitas petani sawit dinilai menjadi langkah penting agar pasokan bahan baku industri tetap terjaga secara berkelanjutan.

Petani Sawit Dinilai Butuh Pendampingan Intensif

Penguatan kapasitas petani sawit dinilai tidak cukup hanya melalui sosialisasi satu arah. Petani membutuhkan pendampingan lapangan yang lebih intensif agar dapat memahami praktik budidaya yang benar secara langsung.

Selain itu, penguatan kelembagaan seperti koperasi dan kelompok tani juga menjadi faktor penting dalam membantu petani memperoleh akses pupuk bersubsidi, benih unggul, hingga pelatihan teknis.

Digitalisasi informasi pertanian juga mulai menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi petani sawit di wilayah terpencil yang masih kesulitan memperoleh akses edukasi budidaya modern.

Model kebun belajar atau plot demonstrasi juga dianggap efektif karena petani dapat melihat langsung dampak penerapan teknik budidaya yang benar terhadap produktivitas tanaman sawit.

Hotline PERKASA Diluncurkan untuk Bantu Petani Sawit

Menjawab tantangan tersebut, TAP Untuk Negeri melalui program Petani Berkualitas dan Sejahtera (PERKASA) resmi meluncurkan Hotline PERKASA.

Program ini dihadirkan sebagai layanan konsultasi dan pendampingan bagi petani kelapa sawit untuk membantu meningkatkan kapasitas serta produktivitas kebun secara berkelanjutan.

Melalui Hotline PERKASA, petani sawit dapat memperoleh akses lebih mudah terhadap berbagai informasi budidaya, mulai dari pengendalian hama, teknik pemupukan, praktik panen yang tepat, hingga konsultasi terkait best practice agronomi.

Inisiatif tersebut menjadi bagian dari komitmen TAP Untuk Negeri dalam memperkuat akses edukasi dan pendampingan bagi petani sawit di berbagai wilayah Indonesia.

Program PERKASA juga dibangun dengan keyakinan bahwa petani sawit memiliki peran strategis dalam menopang kebutuhan energi dan ekonomi nasional di masa depan.

Ketika produktivitas petani meningkat, kesejahteraan keluarga petani juga ikut tumbuh sekaligus memperkuat rantai pasok industri sawit nasional.

Pemerintah Soroti Pentingnya Sawit dan Biodiesel B50

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa sektor sawit merupakan salah satu kekuatan ekonomi nasional yang harus dikelola secara berkelanjutan.

“Indonesia tidak boleh mundur. Sawit adalah kekuatan ekonomi bangsa. Karena itu, tata kelolanya harus kuat dan berkelanjutan, serta didorong ke arah hilirisasi agar manfaat ekonominya semakin luas bagi masyarakat,” ujar Amran.

Hal senada juga disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, terkait pentingnya penguatan program biodiesel B50 dalam mendukung kemandirian energi nasional.

“Ada tiga hal yang harus kita lakukan dalam menghadapi krisis energi dunia sekarang. Yang pertama kita harus mengoptimalkan lifting kita. Yang kedua adalah mencari diversifikasi seperti B50. B50 itu kan mengurangi impor solar kita,” ujar Bahlil.

Peningkatan implementasi biodiesel B50 sendiri membutuhkan dukungan pasokan Crude Palm Oil (CPO) yang stabil dan berkelanjutan.

Karena itu, peningkatan produktivitas petani sawit dinilai menjadi langkah penting agar kebutuhan industri dan energi nasional dapat terus terpenuhi.

Hotline PERKASA Diharapkan Jadi Solusi Cepat untuk Petani

Sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem sawit berkelanjutan, TAP Untuk Negeri menilai penguatan kapasitas petani harus dimulai dari akses edukasi yang mudah dijangkau.

Hotline PERKASA diharapkan dapat menjadi ruang konsultasi sekaligus solusi cepat bagi petani sawit dalam menghadapi berbagai persoalan di lapangan.

Dengan adanya layanan tersebut, petani diharapkan lebih mudah memperoleh informasi teknis budidaya dan pendampingan yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas kebun mereka secara berkelanjutan. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:02
02:11
01:30
05:41
02:16
05:19

Viral