- tvOnenews/Abdul Gani Siregar
Anak Orang Kaya Bisa Tolak Makan Bergizi Gratis, BGN Bongkar Cara Resmi Menolaknya
Jakarta, tvOnenews.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto ternyata tidak wajib diterima seluruh siswa. Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan anak dari keluarga mampu atau siswa yang sudah tercukupi kebutuhan gizinya diperbolehkan menolak program tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S. Deyang usai muncul pernyataan Presiden Prabowo yang menyebut dirinya tidak mempermasalahkan jika anak orang kaya menolak MBG.
Menurut Nanik, sejak awal program MBG memang tidak bersifat memaksa, khususnya bagi masyarakat yang dinilai sudah mampu memenuhi kebutuhan gizi secara mandiri.
“Apa yang disampaikan presiden sudah benar, memang tidak ada paksaan,” ujar Nanik dikutip dari Detikcom, Selasa (12/5/2026).
Anak Orang Kaya Bisa Tolak MBG Lewat Sekolah
BGN menjelaskan mekanisme penolakan program MBG sebenarnya cukup sederhana. Sekolah bisa langsung menyampaikan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) apabila para siswa di sekolah tersebut memilih tidak menerima bantuan makan gratis.
Penolakan bisa dilakukan secara lisan maupun tertulis.
“Cara menolaknya adalah tinggal menyampaikan lisan atau tulisan oleh sekolah, ‘kami tidak menerima MBG,’ begitu,” kata Nanik.
Dengan mekanisme tersebut, sekolah yang mayoritas siswanya berasal dari keluarga mampu dapat memilih untuk tidak ikut dalam program MBG.
MBG Tidak Dipaksakan untuk yang Sudah Mampu
Nanik menegaskan tujuan utama program MBG adalah membantu pemenuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak yang membutuhkan dukungan asupan makanan sehat.
Karena itu, masyarakat yang sudah mampu memenuhi kebutuhan gizinya sendiri tidak diwajibkan menerima bantuan dari negara.
Menurutnya, keputusan untuk menolak MBG justru dapat membuat penggunaan anggaran menjadi lebih efisien dan tepat sasaran.
“Dari awal kan memang program ini untuk pemenuhan gizi, jadi yang sudah terpenuhi gizinya ya memang nggak apa-apa menolak, biar efisien di anggaran,” ujarnya.
Pernyataan Prabowo Jadi Sorotan
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan dirinya tidak mempermasalahkan apabila anak-anak dari keluarga kaya memilih menolak program makan bergizi gratis.
Pernyataan itu kemudian memunculkan perdebatan di masyarakat mengenai apakah program MBG bersifat wajib atau sukarela.
BGN pun menegaskan bahwa sejak awal program tersebut memang lebih difokuskan untuk membantu kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan pemenuhan gizi.
Karena itu, tidak ada sanksi maupun kewajiban bagi siswa dari keluarga mampu untuk tetap menerima program tersebut.
Fokus MBG untuk Pemenuhan Gizi Anak
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.
Program ini menyasar pelajar di berbagai daerah dengan tujuan membantu pemenuhan nutrisi harian sekaligus mendukung kesehatan dan proses belajar siswa.
Namun dalam pelaksanaannya, pemerintah juga membuka ruang fleksibilitas bagi sekolah maupun keluarga yang merasa tidak membutuhkan bantuan tersebut.
BGN menilai langkah itu penting agar anggaran negara bisa lebih difokuskan kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan bantuan pemenuhan gizi.
Efisiensi Anggaran Jadi Pertimbangan
Di tengah besarnya anggaran yang dibutuhkan untuk menjalankan program nasional MBG, pemerintah juga mulai menekankan pentingnya efisiensi distribusi bantuan.
Dengan adanya sekolah atau siswa yang memilih menolak program karena sudah mampu, distribusi bantuan diharapkan lebih tepat sasaran.
BGN menilai langkah tersebut justru dapat membantu optimalisasi penggunaan anggaran negara agar lebih banyak menjangkau anak-anak yang masih membutuhkan asupan gizi tambahan.
Hingga kini, pemerintah terus melakukan sosialisasi terkait pelaksanaan program MBG di berbagai daerah, termasuk mekanisme penerimaan maupun penolakan program oleh sekolah dan masyarakat. (nsp)