- Istimewa
Partisipasi di Venice Biennale 2026, Indonesia Tapilkan Sejarah Maritim di Pameran Internasional
Jakarta, tvOnenews.com - Indonesia kembali ikut berpatisipasi dalam pameran seni Venice Biennale 2026 yang berlangsung di Venesia, Italia.
Dalam partisipasinya Paviliun Indonesia bertema 'Printing the Unpronted' di pameran tersebut turut menampilkan hasil karya kolektif dari tujuh seniman Nusantara yakni Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.
Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon mengatakan Indonesia kembali menampilkan karyanya dalam pameran tersebut usai absen sekitar enam tahun lamanya.
"Pada tahun ini juga saya menyampaikan, saya umumkan bahwa Indonesia akan kembali dalam Venice Biennale 2026 dengan paviliun Indonesia," kata Fadli Zon dikutip dari Antara, Kamis (14/5/2026).
Pameran ini mengangkat narasi besar pelayaran Nusantara abad ke-15 sekaligus memperkenalkan kembali sejarah maritim Indonesia kepada publik dunia.
Kehadiran Paviliun Indonesia dalam ajang seni bergengsi ini menjadi ruang penting untuk memperlihatkan bahwa Nusantara sejak lama memiliki tradisi pelayaran, kemampuan navigasi, dan hubungan budaya lintas bangsa yang berkembang jauh sebelum era modern.
"Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan, Danantara Indonesia Trust Fund, MTN Seni Budaya, dan Negeri Elok dengan kurator Aminudin TH Siregar," dikutip dari akun Instagram @voxpopular.id, Kamis (14/5/2026).
Melalui karya seni cetak grafis yang ditampilkan, para seniman Indonesia menghidupkan kembali kisah perjalanan pelaut Nusantara selama 14 tahun pada periode 1472 hingga 1486.
Narasi juga menggambarkan bagaimana pelaut Nusantara pernah membawa pulang bibit apel Alpen ke tanah Batak sebagai simbol pertukaran pengetahuan dan komoditas antarwilayah dunia.
Kisah lain yang diangkat juga memperlihatkan momen interaksi budaya ketika pelaut Indonesia mencicipi keju Italia sementara masyarakat Venesia terpikat oleh tekstur dan keindahan kain ulos khas Nusantara.
Narasi ini memperlihatkan bahwa hubungan antara Nusantara dan dunia internasional telah terjalin sejak berabad-abad lalu melalui jalur pelayaran dan perdagangan.
Pameran 'Printing the Unprinted' tidak hanya menampilkan karya seni visual, tetapi juga membangun pembacaan ulang terhadap posisi Nusantara dalam sejarah global.
Melalui pendekatan artistik kontemporer, para seniman mencoba menempatkan Indonesia bukan sekadar sebagai penonton dalam perjalanan sejarah dunia, melainkan sebagai bagian aktif yang turut membentuk peradaban maritim internasional.
Kehadiran karya-karya tersebut sekaligus menjadi refleksi atas kekayaan budaya Indonesia yang lahir dari tradisi pelayaran, pertukaran gagasan, hingga pertemuan antarmasyarakat lintas kawasan.
Kolaborasi tersebut menghadirkan interpretasi artistik yang mempertemukan sejarah, identitas budaya, dan perspektif kontemporer dalam satu narasi besar mengenai kejayaan maritim Nusantara.(ant/raa)